Ketiganya bersemangat

Dari kiri ke kanan: Kalayah, Tarek dan Bari
Foto: Bari Muchtar

Kamis 1 Februari saya mulai lagi mengajar Bahasa Belanda atau persisnya melakukan coaching bahasa di InspiratieInc, sebuah yayasan yang banyak mengayomi para pengungsi terutama dari Timur Tengah dan Afrika.

Kolom: Bari Muchtar

Meski hanya ada dua orang muridnya, tapi cukup mengesankan. Pertama karena kedua peserta sangat bersemangat. Tarek, asal Mosul, Irak selalu mencatat kata atau kalimat yang saya ajarkan. Menulisnya bukan dalam huruf Latin tapi huruf Arab. Murid yang satu lagi adalah Imane. Pengungsi asal Suriah ini menghafal dengan rajin kata-kata bahasa Belanda yang tertera di sebuah kertas. Itu sudah dilakukan minggu lalu. Ketika itu mundar-mundir ia menggumamkan kata-kata. Saya jadi teringat ketika kuliah di Mesir. Menjelang ujian taman-taman dipenuhi mahasiswa mundar-mandir menghafal.

Menyadari bahwa ini bukan cara yang tepat untuk belajar bahasa asing saya ajak Imane untuk melakukan konversasi. Ternyata dia sudah lumayan bisa bercakap-cakap dalam bahasa Belanda. Tapi setelah ngobrol sebentar tentang sudah berapa lama ia tinggal di Belanda dan lain-lain ia kembali menggumamkan kata-kata yang tertulis di secarik kertas tadi. Kata-kata di kertas itu bukan kata-kata yang bisa digunakan untuk percakapan sehari-hari. Setidaknya tidak bisa langsung digunakan untuk misalnya berbelanja dan lain-lain. Di sana tertera kata-kata “kering” tanpa konteks. Lalu terpikir di benak saya untuk mengajaknya menggunakan kata-kata itu dalam kalimat. Ia pun mengerti dan ternyata mampu membuat kalimat dengan menggunakan kata-kata itu. Saya pun puas dengan penanganan ini.

Tapi si Tarek masih tetap ingin mencatat tiap kalimat yang ia dengar dari mulut saya. Namun perlahan-lahan ia mengerti maksud saya agar menggunakan kalimat-kalimat itu dalam percakapan. Akhirnya saya pun puas juga dengan dia.

Yang membuat saya juga senang dalam kunjungan saya ke InspiratieInc Kamis itu adalah perjumpaan kembali dengan Glenn. Kenapa? Karena dengan orang asal Suriname ini saya bisa berdiskusi panjang lebar.

Menariknya saya bisa berdiskusi tentang agama secara terbuka dengang orang yang mengaku orang Yahudi asli ini. “Saya bukan orang Yahudi tapi orang Ibrani”, katanya, “dan nama Ibrani saya Kalayah.” Menurut dia, orang-orang Yahudi yang kita kenal selama ini adalah Yahudi palsu. Jadi, Yahudi yang mendirikan negara Israel, membentuk gerakan zionisme, yang menguasai perbankan dan lain-lain itu semuanya Yahudi palsu. Kalayah, selalu bersemangat kalau berbicara soal budaya dan agamanya. Meskipun berbeda pendapat, tapi kami bisa berdialog lama.

Imane, Tarek dan Kalayah mempunyai kesamaan. Ketiganya bersemangat. Dan ini membuat saya juga bersemangat untuk sering mampir di InspiratieInc.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s