“Sekali di Udara Tetap di Udara”

Foto: Facebook/Kalkasingh

Setelah pulang ke Belanda dari liburan ke Indonesia bersama istri, anak dan cucu, Agustus tahun lalu, saya sudah bertekad untuk berhenti menjadi penyiar di Radio SKS (www.radiosksfm.com), karena mau “pensiun total”.

Di siaran saya sudah sering mengatakan bahwa saya akan mengundurkan diri sebagai penyiar dan sudah mulai mencari pengganti. Ada beberapa orang yang sudah saya aproach untuk menjadi penerus saya di radio multibahasa itu. Tapi usaha itu gagal. Belakangan banyak hal-hal yang membuat saya- untuk sementara- urung lengser.

Pertama makin banyaknya orang mendengarkan siaran. Terutama saudara dari kampung halaman saya dari desa Landur, Bayau dan desa-desa lain di Kabupaten Empat Lawang, serta saudara-saudara yang tinggal di daerah lain di Indonesia. Teman-teman warga Aceh di luar negeri seperti di Swedia, Jerman dan sebagainya suka mendengarkan. Juga yang tinggal di Aceh. Biasanya orang yang saya wawancarai suka mendengarkan siaran. Banyak pula orang-orang yang dulu setia mendengarkan Ranesi (Radio Nederland Siaran Indonesia) juga suka mengakses Radio SKS. Dari semula mendengarkan lewat website tapi perlahan-lahan mereka menyimak dan memirsa siaran lewat facebook.

Kedua, bertambahnya perasaan keterlibatan saya dengan radio SKS yang dimiliki pasangan Soenil Kalkasingh (warga Belanda asal Suriname/Hindustan) dan Ria Mantjes (perempuan lansia Belanda yang tak kenal lelah). Demi keberlangsungan multibahasa radio ini, saya sering membantu mereka untuk mencari penyiar baru, bukan hanya untuk siaran bahasa Indonesia saja tapi juga untuk siaran dalam bahasa lain.

Karena saya menyukai dan lumayan menguasai bahasa Arab saya mencari di kalangan pengungsi (sejak hampir 6 tahun saya bekerja sebagai relawan untuk pengungsi) orang-orang yang mau menyiar dalam bahasa Arab. Sekarang sebenarnya sudah ada siaran berbahasa Arab, tapi dialek Maroko.

Di bulan Januari saya berjumpa dengan seorang pengungsi Suriah yang pernah saya bimbing belajar Bahasa Belanda. Ia langsung bertanya apakah saya masih bekerja di radio. Setelah saya jawab pertanyaan itu dengan “Ya”, George Dodosch, pemeluk agama Kristen Orthodox ini, meminta saya untuk membantunya agar bisa menjadi penyiar di Radio SKS. Setelah saya perkenalkan dengan Soenil, Ahad ini ia akan berjumpa Soenil dan Ria untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan siarannya.

Kemudian tiba-tiba Hero, seorang pendengar setia Radio Nederland Siaran (Ranesi) yang kini menjadi penyiar di Radio Immanuel, Solo, mengajak saya untuk tiap Kamis menggelar talkshow di acaranya. Lalu tanpa disangka, Latif Gau, pengusaha Indonesia di Belanda, menelpon saya lewat Whatssapp. Ia bertanya apakah saya bersedia membantu teman-teman Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda untuk menghidupkan kembali Radio PPI Belanda. Tentu saja saya tidak bisa dan tidak mau menolak, meski saya akan makin bertambah sibuk. Wah rupanya Allah mentakdirkan saya untuk tetap menekuni bidang keradioan. Jadi ingat slogan yang mungkin sudah jadul dari kalangan penyiar. “Sekali di Udara Tetap di Udara”.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s