Indonesia Tampil Cemerlang di Holland Festival Amsterdam

Pada penyelenggaraan Holland Festival ke-70, yang berlangsung sejak 3 Juni hingga 25 Juni 2017 lalu, Indonesia telah menjadi fokus kegiatan promosi seni budaya tertua di Belanda ini, dengan tema “Demokrasi Indonesia”. Sejumlah seniman Indonesia telah hadir dan menampilkan karya-karya seninya mulai dari pemusik, pembuat film, hingga artis visual.

Penampilan perdana seniman Indonesia pada Holland Festival diselenggarakan dengan mengangkat tema A Night in Indonesia. Beberapa musisi terkenal asal Indonesia, yaitu Jogja Noise Bambing, Boi Akih, Filastine, Kande, Senyawa dan DJ Sekan, telah menggelah konser bertajuk “A Night in Indonesia” pada tanggal 16 Juni 2017 di Paradiso Amsterdam.

Dalam konser tersebut, para musisi kawakan Indonesia ini berhasil menggabungkan elemen tradisional dari musik pop, folklore, dan EDM (Electronic Dance Music) dengan harmonisasi yang indah.Pagelaran musik yang berdurasi 5 (lima) jam ini dimulai dengan sebuah lokakarya yang dinamai Building Synthesisers.

Jogja Noise Bombing terdiri dari beberapa musisi berbakat bergenre EDM (Electronic Dance Music) yang telah berhasil menggelar festival dan konser bekerjasama dengan seniman lokal di beberapa negara di Asia dan Amerika Serikat. Grup ini memadukan musik dari alat musik elektronik dan musik beraliran punk. Dalam konser A Night in Indonesia, Jogja Noise Bombing telah tampil dan mengadakan workshop di Main Hall Statschouwburg Amsterdam.

Selain Jogja Noise Bombing, Boi Akih juga tampil dalam acara tersebut. Boi Akih terdiri dari vokalis Monica Akihary yang berdarah Maluku serta komposer dan gitaris terkenal Niels Bower. Dalam konser ini, Boi Akih akan menampilkan “Controlling the Swing” yang menceritakan hubungan cinta benci Belanda dan Indonesia dengan improvisasi dan melodi Maluku dengan harmonisasi yang indah. Dalam penampilannya, Boi Akih juga bekolaborasi dengan salah satu pemain gamelan terbaik dari Bali yaitu I Made Subandi.

Sementara grup band Kande yang berasal dari Banda Aceh telah menampilkan perpaduan musik dari alat musik rebana dan gitar listrik dengan vokal suara orang Aceh. Senyawa yang merupakan duo musisi asal Jawa Tengah memadukan musik metal akustik dengan vokal tradisional dari Sulawesi dengan penyanyi utama Rully Shabara. Kemudian Filastine yang berasal dari Malang menyajikan musik post-folk duet dengan alat musik elektronik. Terkahir, grup Sekan menyuguhkan lagu-lagu Indonesia terbaik dari genre musik disko, funk dan boogie.

Apresiasi dari penonton yang menghadiri konser A Night in Indonesia sangat positif. Hal ini dapat direfleksikan dengan penuhnya tempat duduk penonton saat konser ini berlangsung. Ditambah lagi, tiket masuk konser ini relatif cukup terjangkau sekitar € 26,- dan untuk mahasiswa €18,-.

Setan Jawa Memukau Publik 

Salah satu karya terbaik Garin Nugroho, yaitu Setan Jawa, telah ditampilkan pada Holland Festival yang berlangsung sejak 3 Juni hingga 25 Juni 2017. Setan Jawa digelar sebanyak dua kali penampilan yaitu 18-19 Juni 2017 di Muziekgebouw Aan ‘Tijn, Amsterdam. Dalam dua kali pertunjukannya di gedung berkapasitas hingga 500 orang, tampak hampir seluruh kursi yang tersedia dipenuhi pengunjung.

Film hitam putih karya Garin Nugroho ini menyajikan pemutaran film yang tidak biasa. Hal ini disebabkan karena sewaktu pemutaran film pada saat yang sama semua percakapan yang dituangkan dalam nyanyian oleh pesinden, musik dan scores film dimaksud dilakukan secara live. Pemusik yang terlibat adalah gabungan gamelan Jawa dan Bali serta 5 (lima) orang pesinden yang menjadi narator utama Setan Jawa dengan orkestra modern. Pemutaran film yang diiringin musik secara langsung ini juga melibatkan musisi Belanda dan konduktor asal Australia, Iain Grandage.

Keunikan pemutaran Setan Jawa tersebut menjadikan pemutaran film ini menjadi sangat menarik pengunjung dan bahkan beberapa dari pengunjung menonton film dimaksud sebanyak dua kali. Pemutaran film Setan Jawa sukses memukau para penonton yang hadir.

Setan Jawa merupakan suatu karya yang terisnpirasi dari teater wayang kulit Indonesia. Bagi Garin Nugroho, wayang adalah suatu seni yang mengandung dua makna, yaitu realita dan mistis. Hal itu yang menjadikan film Setan Jawa memiliki konsep serupa dengan wayang dan mampu menciptakan daya tarik tersendiri bagi penonton yang datang dalam festival tersebut.

Jalan cerita Setan Jawa yang dibuat seperti berhalusinasi  mampu memperlihatkan kondisi yang sesungguhnya dari aspek kemiskinan di Pulau Jawa pada awal abad 20. Film ini diberi latar musik tradisional Jawa yang bernuansa mistis dengan konsep yang dibuat tradisional mungkin agar penonton tidak hanya sekadar menonton, namun juga dapat  merasakan bagaimana kondisi Pulau Jawa masa itu.

Film Setan Jawa bukan film Indonesia pertama yang diputar di Belanda. Namun, Setan Jawa memiliki perbedaan dan keunikan tersendiri. Setan Jawa memberikan pengetahuan kepada para penonton mengenai sejumlah aspek, salah satunya yaitu dari aspek budaya. Hal itu pula ditujukkan dengan maksud mengenalkan kebudayan Indonesia kepada seluruh masyarakat, khususnya masyarakat Belanda.

Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, turut hadir dan menikmati kedua event tersebut. Dubes Puja juga sempat berbincang dengan Garin Nugroho dan pemeran utama perempuan, Asmara Abigail, yang menyempatkan hadir dalam pagelaran dimaksud.

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s