Tetap Memperjuangkan RMS, Tapi Tanpa Kekerasan

Prisai Republik Maluku Selatan (RMS)
©commons.wikimedia.org

Sebagian warga Maluku di Belanda masih bercita-cita untuk memerdekakan negeri leluhurnya. Demikian dapat disimpulkan dari  sebuah artikel di koran Trouw beberapa saat silam. Artikel yang ditulis oleh Geronimo Matulessy itu, muncul sehubungan dengan 40 tahun pasca penyanderaan kereta api oleh remaja Maluku.

Tujuan aksi itu adalah untuk menarik perhatian pemerintah dan masyarakat Belanda terhadap nasib orang Maluku yang diangkut ke negeri kincir angin. Pemerintah Belanda kala itu berjanji untuk secepatnya membawa pulang warga Maluku ke Republik Maluku Selatan (RMS). Namun penyanderaan kereta di De Punt, Belanda Utara itu, mengakibatkan citra negatif warga Maluku di mata masyarakat Belanda.

Mengilas balik peristiwa tersebut, tulisan itu menampilkan pendapat tiga orang generasi muda Maluku.

Chayah Henanussa (24) yang tinggal di kampung Maluku di kota Assen, Belanda Utara, masih semangat memperjuangkan RMS. “Saya khawatir, cita-cita kemerdekaan kita meredup akibat banyaknya orang-orang seusia saya sibuk dengan hal-hal lain. Meski suka mengibarkan bendera Maluku tapi mereka tidak berupaya untuk itu. Saya kira penting bahwa kita tetap bersatu dan tidak kehilangan identitas.” Chayah menambahkan bahwa ia membantu RMS dengan menyumbang dana. “Kalau kami merdeka, kami akan pindah ke Maluku.”

Jeftha Pattikawa (40) mengaku tidak begitu sibuk memperjuangkan kemerdekaan Maluku. “Saya lebih banyak terlibat dengan hak asasi manusia, rasisme atau hak-hak perempuan secara umum,” kata perancang mode dan pembuat dokumenter ini. Ia mengatakan dirinya frustrasi karena media sering menstigmatisasi orang Maluku. Menurut dia, media selalu menyinggung penyaderaan kereta atau menyebut kata radikal, kalau memberitakan soal orang Maluku.

Joenoes Polnaija (27) memahami reaksi negatif orang Belanda terhadap kasus penyanderaan kereta di atas. Penyebabnya, menurut Joenoes, karena masyarakat Belanda tidak mengerti sejarah orang Maluku dan dampaknya. Ia menambahkan pula bahwa cikal bakalnya adalah karena Belanda menjajah Maluku berabad-abad lalu. Joenoes menekankan pula bahwa perjuangan RMS sekarang dilakukan tanpa kekerasan. Sebagai contoh ia menyebut demonstrasi damai  yang dilakukan remaja Maluku ketika presiden Joko Widodo berkunjung ke Belanda beberapa saat silam. “Kami berhasil memperlihatkan bahwa kami bisa menyampaikan pesan kami tanpa kekerasan.”

Sumber: Trouw

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s