Belanda Tidak Berhak Berbicara tentang Indonesia

Marjolein van Pagee
©facebook

Hubungan antara Belanda dan Indonesia rusak sama sekali akibat masa lalu, tapi alih-alih membaik malah tiap ada kesempatan kita selalu mau menggurui Indonesia. Demikian Marjolein van Pagee mengawali opininya di koran Trouw yang berjudul “Nederland heeft geen recht van spreken atau Belanda tidak berhak berbicara”. Mahasiswa sejarah kolonial ini mengambil kasus vonis dua tahun Ahok sebagai contoh. Ia mengkritik anggota parlemen dari partai Kristen, Voordewind, yang serta merta meminta dukungan anggota parlemen Belanda lainnya untuk medesak menlu Belanda Koenders mengimbau pemerintah Indonesia untuk membebaskan Ahok.

Menurut Marjolein Belanda merasa, bahwa hak asasi manusia (HAM)tidak bermasalah di negeri kincir ini.  “Kita mengira, pelanggaran HAM di masa lalu tidak memegang peranan lagi. Pada 2005 Menlu Belanda Ben Bot sudah menyatakan penyesalan di upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI di Jakarta. Selain itu Belanda akan melakukan penyelidikan kembali terhadap kejahatan perang tentara Belanda yang terjadi di zaman perjuangan kemerdekaan RI dulu,” tulisnya.

Namun orang Indonesia berbeda pendapat, lanjutnya. Hal ini diketahuinya dari berita-berita yang diterimanya dari teman-temannya yang muslim dari Indonesia. Salah satunya adalah Yusuf dari Madura.  Marjolein yang kakeknya pernah bertugas sebagai militer Belanda di Indonesia ini menambahkan bahwa pada 2014 dirinya pernah melakukan penyelidikan di Madura terhadap kuburan massal tahun 1947. “Sekitar ratusan pemuda Madura saat itu terbunuh. Marinir Belanda membalas serangan dengan senapan mesin, serangan yang tidak seimbang melawan orang Madura yang bersenjata pedang dan bambu runcing.”

Selanjutnya Marjolein menulis di kolom itu bahwa Yusuf menilai vonis Ahok adalah wajar, karena ia menghina Al Quran. “Pendapat Yusuf ini disetujui oleh banyak teman moslim Indonesia saya,” tulis Marjolein. Lelaki Madura ini berpendapat, Voordewind membela Ahok karena dia Kristen. Yusuf mengkritik sikap munafik Belanda yang pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun: “Kenapa Belanda hanya bersuara kalau berkaitan dengan seorang gubernur Kristen, kenapa tidak ada suara saat jutaan muslim di Timur Tengah menjadi korban imperialisme Amerika, dengan dalih memerangi teroris,” tulis Marjolein mengutip Yusuf.

Terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan pendapat Yusuf, tapi ia bukan satu-satunya yang berpandangan seperti itu. Presiden Jokowi menghadapi tantangan besar untuk menegakkan persatuan di antara 250 juta penduduk Indonesia. “Meski vonis ini sangat menyedihkan dan tidak adil bagi diri Ahok, tapi Indonesia tidak menginginkan anjuran sok tahu dari seorang Belanda seperti menlu Koenders. Apalagi kalau melihat betapa munafiknya Belanda dalam menyikapi sejarah kolonialnya,” lanjut Marjolein dalam tulisannya.

Dalam tulisan ini Marjolein menyatakan ia mendukung teman-temannya orang Indonesia yang turun ke jalan untuk menunjukkan solidaritas terhadap Ahok. Tapi ia tidak mendukung usulan Voordewind untuk meminta menlu Belanda Koenders agar mendesak pemerintah RI untuk membebaskan Ahok. Sikap ini dinilainya munafik.

Terakhir ia mahasiswa S2 Universitas Leiden ini memperingatkan bahwa fasal yang digunakan untuk memvonis Ahok itu adalah fasal warisan Belanda. “Siapa yang mengkritik proses hukum di Indonesia, harus menyadari bahwa UU yang digunakan untuk memvonis Ahok adalah ciptaan kita (Belanda,red) pada zaman kolonial dulu,” tulis Marjolein menutup kolomnya.

Sumber:Trouw

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s