“Mereka itu kan pejuang kemerdekaan Indonesia.”

Marjolein van Pagee
©facebook

“Tujuannya adalah untuk menjadi jembatan bahasa antara Indonesia dan Belanda.” Demikian tandas Marjolein van Pagee pendiri Yayasan Histori Bersama kepada Siaran Bahasa Indonesia Radio SKS. Karena ada perbedaan pendapat antara orang Indonesia dan Belanda tentang zaman itu, maka Marjolein tertarik untuk menyelidiki sejarah lebih mendalam.

Kakek mahasiswa Sejarah Kolonial ini dulu pernah bertugas sebagai marinir di Jawa Timur. Maka ia pun bertolak ke Jawa Timur untuk membuat dokumentasi fotografi tentang kakeknya itu. Waktu itu dia pun mulai belajar Bahasa Indonesia. “Karena ibu tempat kos tidak bisa Bahasa Inggris, saya terpaksa belajar Bahasa Indonesia,“ katanya.

Bersamaan dengan studi S2 di bidang sejarah kolonial, perempuan muda ini mendirikan yayasan Histori Bersama,  yang kegiatannya antara lain mengelola  historibersama.com. Jurnalis bebas ini melihat bahwa sekarang tiba saatnya untuk melihat sejarah yang terutama berkaitan dengan zaman penjajahan Belanda dari dua sisi: Indonesia dan Belanda. Alasannya antara lain karena sekarang emosi tentang kejadian zaman dulu itu sudah mulai berkurang.

Ia menambahkan bahwa perhatian Belanda terhadap sejarah kolonialnya itu sangat sedikit. “Hanya sebagai catatan kaki,” katanya. Ini juga merupakan alasan penting lain kenapa ia mendirikan yayasan ini. Historibersama.com tak pelak lagi berisi berbagai tulisan tentang sejarah yang berkaitan dengan kedua negara ini.

Sebagai contoh ada artikel-artikel mengenai penelitian ilmiah baru yang dilaksanakan lembaga-lembaga ilmu pengetahuan Belanda tentang kejahatan perang yang terjadi di zaman “agresi militer Belanda” di Indonesia. Juga yang sangat banyak dibahas di situs yang berbahasa Belanda, Indonesia dan Inggris ini adalah tentang apa yang disebut “Bersiap tijd”. Yang dimaksud dengan Zaman Bersiap ini adalah zaman revolusi dengan menitikberatkan kepada penderitaan orang-orang Belanda, Indo, dan juga warga pribumi Indonesia di zaman itu. Banyak di antara mereka yang terbunuh, dimasukkan ke kamp-kamp internering.

Mereka banyak dibunuh oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia, terutama pemuda.

Dalam hal ini Marjolein berpandangan bahwa orang di Belanda bersikap pukul rata. Soalnya orang Belanda cendrung mengatakan, bahwa semua pemuda itu kejam. “Mereka itu kan pejuang kemerdekaan,” simpul Marjolein van Pagee.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s