Mesjid Muslim Indonesia di Amsterdam Segera Diresmikan

Pusat Kebudayaan Indonesia PPME Al Ikhlash

Di tengah Islamophobia yang kian menguat di Eropa belakangan ini, diaspora Muslim Indonesia ibarat oase yang menyejukkan. Melalui keramahan dan sikap supelnya, keunikan budayanya, dan tidak kalah penting keragaman kulinernya, masyarakat Muslim Indonesia di Belanda berhasil menampilkan citra Islam yang ramah, merangkul, rileks dan tidak eksklusif di tengah pergaulan masyarakat Eropa.

Ekspresi semacam ini memberikan alternatif positif terhadap kesan miring pada sebagian masyarakat Barat yang selama ini menganggap penduduk Muslim di Belanda gagal berintegrasi, memiliki pandangan dunia yang bertentangan dengan demokrasi Barat, dan secara langsung maupun tidak mendukung aksi kekerasan dan teror.
Pusat Kebudayaan Indonsia
Salah satu kantong komunitas Muslim Indonesia di Belanda berpusat di kota kecil di pojok barat Amsterdam, yakni Badhoevedorp. Komunitas yang berhimpun di bawah organisasi Persatuan Pemuda Muslim Eropa (PPME) Al-Ikhlash Amsterdam ini beberapa bulan silam berhasil membeli sebuah gedung dengan pendanaan yang dihimpun dari sedekah para anggota dan simpatisan sendiri maupun donatur utama dari Indonesia bernama H. Anif. Gedung yang beralamatkan di Jan van Gentstraat 140, Badhoevedorp ini dijadikan sebagai Pusat Kebudayaan Indonesia (Indonesisch Cultureel Centrum). Di dalamnya terdapat ruang besar yang difungsikan sebagai Masjid Al-Ikhlash, kelas-kelas madrasah, ruang kantor, dan fasilitas workshop atau mini-seminar.
Selain secara rutin menyelenggarakan jamaah sholat lima waktu, gedung ini juga digunakan untuk pendidikan anak-anak dan remaja setiap hari Minggu, istigotsah setiap Sabtu pertama tiap bulan, kegiatan budaya dan olah raga, maupun diskusi dan temu budaya. Meski gedung baru digunakan kurang dari satu tahun, namun sudah banyak tokoh Indonesia yang berkunjung ke gedung ini dan berdialog dengan masyarakat Indonesia di Belanda. Sebutlah sebagai misal: Wali Kota Surabaya Ibu Risma, Wali Kota Bandung Kang Emil, maupun Gubernur Jawa Tengah Pak Ganjar. Beberapa study tour para mahasiswa dan pelajar dari Indonesia juga pernah berkunjung ke gedung ini.
Momen sangat bersejarah
Hari Selasa tanggal 28 Maret 2017 mendatang akan menjadi momen yang sangat bersejarah bagi PPME Al-Ikhlash Amsterdam karena Masjid Al-Ikhlash yang berada di Pusat Kebudayaan Indonesia ini akan diresmikan. “Ini adalah momen yang ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia di Amsterdam dan sekitarnya yang telah lama ingin memiliki gedung sendiri untuk aktivitas budaya dan keagamaan,” kata KH. Muzayyin, salah satu pendiri organisasi ini. “Sebelum memiliki gedung ini, kami harus menyewa gedung ke organisasi lain. Bahkan sebelumnya, kami harus pindah dari satu rumah ke rumah lain untuk melaksanakan pertemuan dan ibadah,” kata Hj. Mutqiyah, guru senior di PPME Al-Ikhlash Amsterdam yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Almarhum Gus Dur.
Menurut ketua PPME Al-Ikhlash Amsterdam, Rudi Kosasih, peresmian masjid direncanakan akan dilakukan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Islam Kemenag, Prof.Dr Phil Komarudian Amian,  di sela-sela kunjungannya ke Belanda untuk membuka dan memberi ceramah pada konferensi internasional “Rethinking Indonesia’s Islam Nusantara” di kampus Vrije Universiteit Amsterdam yang diselenggarakan oleh Nahdlatul Ulama (NU) Belanda.  Acara peresmian juga akan dihadiri “oleh beberapa Duta Besar RI yang juga menghadiri event internasional tersebut,” kata pemilik usaha restoran ini. Para Duta Besar itu adalah I Gusti Wesaka Puja (Dubes RI untuk Belanda), Achmad Chozin Chumaidy (Dubes RI untuk Lebanon), Agus Maftuh Abegebriel (Dubes RI untuk Arab Saudi), Safira Machrusah (Dubes RI untuk Aljazair), dan Husnan Bey Fananie (Dubes RI untuk Azerbaijan).
Pembangunan tahap kedua
Dalam kesempatan yang sama Ketua Panitia, Hasanul Hasibuan, menambahkan bahwa peresmian Masjid Al-Ikhlash ini sekaligus menandai rencana pembangunan tahap kedua. “Meski kami baru menghela nafas lega setelah membeli gedung, namun kami sudah memikirkan pembangunan tahap kedua. Acara peresmian Masjid Al-Ikhlash ini akan menandai secara resmi pembangunan tahap kedua tersebut,” kata professional di bidang teknologi informatika ini.
KH. Budi Santoso, tokoh sentral PPME Al-Ikhlash Amsterdam, menjelaskan bahwa pembangunan tahap kedua akan mengoptimalkan lantai kedua yang saat ini baru dimanfaatkan sebagian.  Ia berharap kehadiran Pejabat Senior Kemenag itu nanti “akan menjadi panggilan yang kuat bagi pemerintah maupun masyarakat Indonesia di tanah air agar mendukung aktif perjuangan kami memperkenalkan keindahan Indonesia dan Islam Nusantara di bumi Eropa,” tegas ulama kelahiran Jombang yang juga pengurus Syuriyah NU Belanda ini.
Bule muslim
Hansyah Iskandar, mantan ketua dan kini penasehat PPME Al-Ikhlash Amsterdam, menuturkan bahwa kesan positif komunitas Muslim Indonesia yang bersifat toleran dan damai sudah banyak dikenal masyarakat Belanda. Beberapa anggota organisasi ini bahkan merupakan orang Belanda asli yang masuk Islam karena pada awalnya tertarik dengan karakter orang Indonesia yang ramah dan terbuka. “Para bule Muslim ini memiliki kegiatan pengajian rutin dua mingguan di masjid kami yang dibimbing oleh Ustadz Abdurrachman Mittendorf yang asli Belanda. Sementara para remaja kami dibimbing oleh Ustadz Ahmad Kasijo yang beretnis Jawa-Suriname dan lulusan pendidikan Arab Saudi,” kata insinyur alumni perguruan tinggi teknik di Delft ini. “Dengan gedung milik sendiri yang akan diresmikan nanti, aktivitas dakwah kami yang kental dengan budaya Nusantara akan kian berkembang. Hal ini pada akhirnya akan menguatkan citra Islam yang ramah di tengah mobilisasi kebencian kepada Islam oleh sebagian politisi di Belanda,” katanya penuh harapan.
Cinta damai
Pernyataan ini dibenarkan oleh Fatimah Dijo, Kepala Madrasah yang menikah dengan suami yang beretnis Jawa-Suriname. “Murid-murid yang belajar di madrasah kami bukan sebatas anak-anak keturunan Indonesia, namun juga campuran Indonesia dengan Belanda, Suriname, dan Arab,” katanya membanggakan. “Bahkan ada beberapa anak yang murni keturunan Maroko belajar di madrasah kami. Orang tuanya beralasan, mereka senang membawa anaknya belajar di sini karena yang ditanamkan pasti nilai-nilai Islam yang cinta damai,” ujar ibu yang berasal dari Malang ini.
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s