Populisme Kanan Ada di Tiap Zaman

©www.idn-nl.com

©www.idn-nl.com

Kemunafikan di kalangan politisi, media, ilmuwan, dan masyarakat madani di Amerika Serikat dan Eropa tidak setampak bulan-bulan belakangan sangat. Penyulut kemunafikan ini adalah Brexit, kemenangan Donald Trump dan bertambah banyakntya pendukung terhadap populis kanan di Belanda (Wilders), Prancis (Marie Le Pen), Austria (Norbert Hofer) dan Jerman (Frauke  Petry).

Sam Pormes*

Semuanya mau kembali ke masyarakat yang terdiri dari kehidupan tunggal yang berbudaya dan beragama Yahudi dan Kristen seperti sebelum perang. Dunia tanpa migran, tanpa Islam.Kembali ke budaya Yahudi-Kristen seperti dahulu. Mitos toleransi, hak asasi manusia dan keramahtamahan ini dipegang diteguh. Upaya sia-sia untuk mempertahankan citra ini secara nasional dan internasional. Akhirnya menjadi doktrin.

Tiap upaya untuk membuka kedok doktrin ini berhadapan dengan garis pertahanan. Populisme Trump, Wilders, Le Pen dan para pedukungnya jelas. Migran tidak boleh masuk. Tiada tempat bagi mereka. Dan Islam adalah ideologi yang bertentangan dengan segala bentuk demokrasi. Ancaman bagi norma dan nilai kita.

Bukan baru
Pola pikiran ini bukan baru. Ini merupakan dasar dari kebradaban Barat. Dan merupakan bagian yang tidak bisa lepas dari pola norma dan nilai. Bedanya dengan masa lalu adalah kini mereka keluar dari lemari tempat bersembunyi.  Homofili sudah berabad-abad tidak diakui, tetapi ini tidak berarti bahwa dulu tidak ada orang gay dan lesbian. Populisme sudah lama bersembunyi di lemari persembuyian liberalisme (VVD), sosial demokrat (PvdA) dan sosialismenya SP.

Tapi kini mereka muncul lagi. Pintu lemari persembunyiannya dibuka lebar dan mereka boleh bergabung di partai-partai dan gerakan-gerakan kanan populis.

Yang lebih memperihatinkan adalah reaksi “lemari-lemari” tempat mereka bersembunyi semula. Kaum populis disebut dengan mudah sebagai “angry white man”, pria putih yang marah”. Krisis bank adalah penyebabnya. Kesalahan elite yang sudah menjauh dari para pemilihnya. Mereka terutama terdiri dari orang-orang yang merasa tidak dimengerti dan disalahfahami dalam menghadapi masalah-masalah yang mereka alami di pasar tenaga kerja.

Tidak pada tempatnya
menyebut istilah perubahan politik mendasar di Uni Eropa, jauh dari sikap mudarat seperti selama ini. Maka bermunculanlah berbagai analisis. Ekonomi mandeg, krisis bank, dana pensiun yang tidak aman lagi, pengangguran dan tentu saja kedatangan pengungsi.

Populis dapat Anda temukan di segala lapisan masyarakat. Dan ini cocok dengan apa yang ada dari dulu. Para pemilik lemari persembuyia tadi berusaha keras untuk mempertahankan citra diri yang mereka ciptakan sendiri. Pedagang dan pendeta yang toleran dan manusiawi.

Mereka tidak peduli bahwa citra diri ini tidak pada tempatnya dan tidak didukung sama sekali oleh sejarah Barat. Pada empat ratus tahun terakhir “populisme kanan” muncul lagi dengar mengenakan jaket yang berbeda. Namun ciri-ciri khasnya tetap sama: dukungan luas dari masyarakat dan penduduk. Dalam kurun waktu sekitar dua ratus tahun lebih dari dua belas juta warga Afrika dijadikan budak. Belanda yang berjiwa dagang menjelma menjadi transportir besar. Dulu perbudakan merukan elemen inti dari kolonialisme.

Kolonialisme
Sekarang kolonialisme dipandang sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Sampai tahun enam puluhan kolonialisme di masyarakat Belanda dipandang sebagai kebajikan, sebagai perbuatan humanis dan manusiawi. Sampai tahun tujuh puluhan kolonialisme di Angola, Mozambik dan Gini Bissau didukung secara militer oleh NATO.

Baru pada tahun sembilan puluhan Apartheid di Afrika Selatan ditumpas. Dan doktrin norma dan nilai Yahudi-Kristen pun diakhiri. Dan tiap tahun pada tanggal 4 Mei kita memperingati korban perang PD II di lapangan Dam, Amsterdam.

Sama seperti PD I, PD II disebabkan oleh bangsa-bangsa yang menganut doktrin Yahudi-Kristen. Kenyataan ini tidak bisa diingkari.

Mempertahankan mitos Barat
Apa yang dilakukan oleh para pemilik lemari persembunyian di atas adalah mempertahankan mitos Barat yang toleransi, demokratis dan manusiawi. Berpura-pura seolah populisme yang berkepala banyak ini merupakan fenomena baru. Tidak termasuk budaya Yahudi-Kristen-Humanis yang dibanggakan oleh Barat.

Populisme tidak pernah hilang. Munculnya ISIS dan serangan-serangan terror di Barat tidak mengubah citra diri yang tidak pada tempatnya itu.

*Mantan anggota Senat Belanda (De Eerste Kamer)

 

Pos ini dipublikasikan di Berita, Kolom/Analisis dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s