Perubahan Iklim, keselamatan Maluku?

©www.idn-nl.com

©www.idn-nl.com

Oleh: Sam Pormes

Perubahan iklim tidak bisa lagi diabaikan. Ini berkaitan dengan prilaku kita sendiri. Situasi di Belanda, Indonesia dan tentu saja Maluku.Terasa dari hal-hal keseharian. Oktober adalah musim kemarau di Maluku. Tapi sering hujan. Jakarta kena banjir pada September. Padahal biasanya terjadi di akhir tahun. Bulan September udara sangat panas di Belanda. Climate Change sangat patut diperhatikan.

Gas rumah kaca
Di Paris, persetujuan baru berhasil diambil untuk memerangi perubahan iklim. Tindakan penting atau keinginan: tahun 2050 tidak ada lagi penggunaan bahan bakar fosil. Energi sepenuhnya langgeng. Tidak ada gas, batubara, minyak bumi atau bensin. Pada saat itu kita akan mengendarai motor listrik. Mobil juga tidak menggunakan bahan bakar fosil lagi. Rumah kita menggunakan energi angin atau surya.

Perubahan iklim adalah fenomena kenaikan suhu di seluruh dunia. Jelas ada keterkaitannya dengan gas rumah kaca yang disebabkan ulah manusia. Tidak diragukan lagi di mana-mana suhu naik. Pemanasan bumi itu sendiri sebenarnya merupakan gejala alamiah: atmosfer di seputar planet kita dan terutama akibat uap air- sudah jutaaan tahun menyebabkan dampak rumah kaca yang melindungi kehidupan manusia di bumi ini terhadap temperatur ekstrem.

Namun masalahnya bahan bakar fosil yang disebabkan oleh manusia dan terutama oleh pembakaran, sudah keterlaluan. Kebutuhan manusia terhadap energi makin bertambah. Dan untuk memenuhi kebutuhan itu terjadilah gas rumah yang luar biasa banyaknya di atmosfer. Hal ini sangat banyak memperparah dampak rumah kaca, dan akibatnya iklim perlahan-lahan berubah.

Permukaan laut
Perubahan iklim ini mengakibatkan naiknya permukaan laut, perubahan frekuensi dan intensitas hujan, badai, berkurangnya jumlah salju dan eis. Ini semua akan berdampak luar biasa bagi ekonomi kita dan kehidupan sehari-hari kita. Di Maluku dampaknya berlipat ganda. Berikut ini beberapa contoh. Kalau permukaan laut naik, pulau-pulaunya akan tenggelam. Pulau-pulau lain seperti Saparua harus dilindungi dengan tanggul-tanggul yang lebih tinggi. Badai akan semakin dahsyat yang mempersulit angkutan laut. Nelayan lokal akan makin kurang melaut dan akibatnya penghasilan mereka berkurang. Kemiskinan akan berlipat ganda. Petani akan banyak mengalami kegagalan panen gara-gara banyaknya hujan.

Alat pengering
Kebanyakan petani di Maluku sepenuhnya tergantung pada mata hari. Mereka menjemur hasil bumi berupa pala, cengkeh, kopi, coklat, vanilla dll. Kalau hujan banyak turun di saat mereka banyak menjemur hasil bumi, kualitas hasil bumi malah akan memburuk. TitanE * sudah membunyikan lonceng darurat. Salah satu tindakan, selain menggalakkan energi langgeng, juga memperkenalkan pengering khusus untuk hasil bumi petani. Ini tidak gampang. Petani harus bekerjasama dalam bentuk ko perasi. Tiap koperasi harus memiliki alat pengering, sehingga petani bisa menggunakannya secara optimal.

TitanE dalam jangka pendek akan memasarkan alat pengering semacam itu. Sebuah alat canggih. Untuk itu perlu banyak dukungan. Kegiatannya sudah dimulai. Yang diperlukan adalah dukungan luas masyarakat Maluku. Apakah mereka benar-benar merasa bertanggung jawab terhadap Maluku atau hanya di bibir belaka. Banyak ucapan emosional di medsos. Masa depan akan membuktikan. Ini benar-benar ujicoba lakmus.

* TitanE Lembaga Diaspora Maluku di Belanda

Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s