Rangga: “Libatkan generasi mudah untuk tuntaskan isu 65.”

Rangga Purbaya saat prentasi di Belanda ©beritabelanda.com

Rangga Purbaya saat prentasi di Belanda
©beritabelanda.com

Ketika berumur 26 tahun seniman dan fotografer Rangga Purbaya (40) mengawali penilitian mengenai nasib kakeknya. Di seputar peristiwa yang dikenal dalam sejarah resmi Indonesia sebagai Gerakan 30 September (G30S) sangat banyak warga Indonesia yang dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI) dibunuh. Jumlahnya kontroversial.  Salah satunya adalah kakeknya Rangga, Boentardjo Amaroen Kartowinoto.

Kunjungannya ke Luweng Grubuk yang mendorongnya untuk melakukan penelitian ini. “Pada periode bulan November 65 sampai Januari 66 Luweng Grubuk dijadikan sebagai lokasi eksekusi untuk orang-orang kiri terutama orang komunis,” katanya saat dijumpai di Zeist, Belanda Ahad lalu.

Sejak itu ia ingin tahu siapa sebenarnya kakeknya. Setelah melakukan penelitian akhirnya ia menyimpulkan kakeknya termasuk orang yang harus dihilangkan karena dia aktifis BTI yang sangat mampu memobilisasi massa.

“Beliau ditangkap kemungkinan besar karena aktivitasnya di Barisan Tani Indonesia (BTI).” Seperti Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), BTI (Barisan Tani Indonesia) adalah organisasi onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Saya memotret dan mewawancara sepupu-sepupu saya dan generasi saya, generasi ketiga dari keluarga korban 65 yang tidak punya banyak pengetahuan tentang relasi keluarga mereka dengan peristiwa 65,“ katanya menjelaskan cara kerjanya.

Rangga Purbaya menjelaskan, meski Orde Baru sudah lama resmi tumbang, namun masih banyak keluarga penyintas peristiwa 1965 belum berani menyatakan bahwa ia keluarga penyintas. Banyak cara untuk menyelesaikan isu 65. Selain melalui jalur hukum dan

politik, juga bisa diselesaikan melalui pendekatan budaya. Kegiatan seniman Yogya ini, termasuk cara yang disebut terakhir ini. “Cara menggunakan seni budaya adalah cara efektif,” tambahnya.

Bagi Rangga menyelesaikan isu 65 adalah untuk kepentingan bangsa Indonesia. “Sebagai bangsa kita harus berdamai dengan masa lalu.”

Alhasil ia akan berjuang terus untuk menyelesaikan ini. “Terutama harus melibatkan generasi muda, ” tegasnya.

Rangga Purbaya berada di Eropa antara lain untuk memamerkan karyanya di Paris, Prancis. Selain itu Ahad 18 September lalu, “wong” Yogya ini berjumpa dengan para eksil di Belanda.

Liputan pertemuan dapat diikuti di Siarah Bahasa Indonesia Radio SKS (www.radiosksfm.com) Selasa 20 September dari jam 14.00 sampai 16.00 waktu bersamaan dengan jam 19.00 sampai 21.00 WIB.

Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s