Pembungkaman halaman hitam sejarah kita

Sam Pormes ©kompasiana.com

Sam Pormes
©kompasiana.com

Pada 1 Desember 1952 dilakukan pencatatan terhadap sejumlah orang Maluku yang termasuk dalam tentara KNIL, yang terdiri dari keluarga, perjaka dan anak-anak. Sebanyak 2.831 keluarga yang terdiri dari 12.831 orang dan 1266 perjaka. Jumlah keseluruhan orang Maluku adalah 14.097 orang.

Kolom: Sam Pormes*

Dua perkampungan terbesar terdapat di Lunetten di Vught dan Schattenberg di Hooghalen, yang masing-masing dihuni 609 keluarga dan 135 perjaka dan 573 keluarga dan 166 perjaka.

Jumlah penduduk Lunetten 3043 jiwa dan jumlah penduduk Schattenberg 2550 jiwa. Hampir 40% masyarakat Maluku ditempatkan di dua pemukiman. Pada tahun lima puluhan, terjadi perpindahan penduduk besar-besaran. Selain perpindahan biasa yang juga berkaitan dengan perbedaan orientasi politik dan sosial atau berdasarkan suku dan agama.

©Molukse historisch museum

©Molukse historisch museum

Serangan
Perpindahan yang diinginkan dan terpaksa ini menyembunyikan halaman kelam sejarah kita. Yang paling terkenal adalah pembentukan apa yang disebut pemukiman Tenggara sebagai dampak dari serangan pengecut terencana terhadap masyarakat Maluku Tenggara di pemukiman Lunetten Vught pada 19 Agustus 1951.  Dalam kesempatan-kesempatan tertentu korban kejadian ini berhasil menceritakan pengalamannya. Tapi para pelaku bungkam. Tidak ada pengakuan, tidak ada penjelasan tentang motivasi dan tidak ada upaya untuk mencari kebenaran.

Yang kurang diketahui adalah penganiayaan warga Maluku Tenggara pada 24 Mei 1951. Ini terjadi di pemukiman perjaka di provinsi Zeeland. Halaman kelam yang paling dirahasikan adalah yang terjadi pada 7 April 1955. Pukul 09.00 pemimpin dan pendiri Persatuan Pulau Pulau Selatan Segenap (PPS) diserang saat mengambil uang saku dan uang pakaiannya.

Ia dikepung oleh puluhan sejawat KNILnya. Dipukuli, diinjak dan digantung. Darah keluar dari telinga, mata dan mulutnya.  Badanya memar, tulang dadanya patah dan terluka. Tiga bulan diperlukannya untuk pulih di rumah sakit di Assen. Keluarganya di Barak 13 dijaga oleh pengikut PPS. Tidak lama setelah itu 12 keluarga terpaksa pulang ke Indonesia.

Ia lahir pada 1905 di Rumdai, Nila (TNS) sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya Apuka Marantika dan ibunya Jerlui Sarioa meninggal dini. Ketika Efraïm baru 7 tahun. Setelah tamat Sekolah Dasar ia diasuh pamannya Hein Marantika. Hein adalah kakek Broery Marantika (Pesulima). Lalu Efraïm mengontak Alexander Jacob Patty.

Sarekat Ambon
Ia pun mengagumi sang orator ini dan berkabung dalam Sarekat Ambon. Sarekat Ambon (SA) didirikan pada 1920 sebagai organisasi politik yang berjuang untuk “membela kepentingan jasmani dan rohani warga pribumi residensi Ambonia dan memajukan serta meningkatkan kemakmukan negeri”.

Pada 1923 Sarekat Ambon menyebarkan pemikirannya di Ambon. Namun kegiatan ini ditentang oleh para pegawai negeri dan bupati. Di Sarekat Ambon,  Efraïm berkenalan dengan istrinya, Dolfina Hitipeuw.  Dolfina aktif di Ina Tuni, gerakan perempuan Sarekat Ambon. Atas dukungan Regentenbond (Serikat Bupati, red) Belanda pun memutuskan untuk menganggap Sarekat Ambon sebagai gerakan subversif. AJ Patty dituduh simpatisan komunis. Ia dan teman-teman seideologinya ditangkapi. Efraïm juga akhir berada di balik jeruji.

Ia dibebaskan dengan syarat ketat, bahwa ia tidak boleh berpolitik lagi. Efraim pun masuk KNIL. Sejak 1928 ia dikirim ke semua provinsi yang memberontak. Ia sering betrok dengan perwira Belanda. Ia pun naik pangkat menjadi kopral, sersan dan turun lagi menjadi kopral. Pada 1950 Efraim tinggal di Malang, Jawa Timur menunggu masa pensiun. Kemudian di Ambon RMS diproklamirkan.

Menolak RMS
Ia banyak diberi informasi oleh saudaranya S. Marantika, wakil terpilih Banda dan kepulauan TNS di Dewan Maluku Selatan (ZMR) dan pemimpin SA. Sepupunya sangat marah atas proklamasi RMS. Ia tidak setuju sama sekali. Efraim pun memutuskan untuk mengambil tindakan alternatif. Pada 28 Oktober 1950 berdirilah PPS. Di kalangan tentara KNIL muncul gejala perpecahan. Sebagian besar anggota berasal dari kepulauan Selatan. PPS mendukung Sarekat Ambon dan menolak RMS. Sebagai reaksi, pada 15 November muncul reaksi balasan dalam bentuk pernyataan dari tentara KNIL Maluku yang mendukung proklamasi RMS.

©Molukse historisch museum

©Molukse historisch museum

Maka Efraim memutuskan untuk menyelenggarakan angket di antara pengikutnya. Pada 15 Desember 1950 PPS menyetujui sebuah resolusi dan menyerahkannya kepada Biro Tentara Maluku Selatan (het Bureau Zuid-Molukse Militairen) dan wakil-wakil CRAMS di Surabaya dan Semarang. Resolusi itu ditandatangani oleh ke-19 anggota Dewan Pengurus (Algemeen Bestuur), 6 kopral dan 13 prajurit infantri Pasukan Gerak Cepat (Stoottroepen).

Mereka berasal dari Banda, Kisar, Babar, Tanimbar, TNS, Aru dan Kepulauan Kei. Mereka mengambil jarak dari pernyataan tentara KNIL Maluku dan terang-terangan menolak RMS. Dan di sinilah akar konflik-konflik yang terjadi kemudian di Belanda.

KRPPT
Kemudian Marantika, di pemukiman Schattenberg, Marantika berhadapan dengan para lawan politiknya. Semula ia dibiarkan. Tapi setelah konflik dan Vugt dan Zeeland para lawannya mengubah kebijakan. Mereka membentuk organisasi BPRMS. Setelah  betrok di Vught didirikanlan Kepentingan Rakyat Pulau Pulau Terselatan (KRPPT), organisasi yang membela kepentingan orang-orang Terselatan. Mereka melawan RMS. Maka KRPPT dianggap sebagai ancaman terhadap persatuan RMS di Beland. Menurut pegawai Belanda, anggota KRPPT dulu terdiri dari 600 kepala keluarga.

Sebagian besar masyarakat Terselatan memilih segregasi. Di Schatternberg juga terjadi perubahan. PPS yang beranggotakan hampir 60 KK tetap aktif. Berkat dukungan pengikutnya, Marantika berhasil meraih kursi di Kampraad (Dewan Kamp,red). Mereka dipersulit. Mereka dituduh pengkhianat.

Konflik politik
Pengurus PPS di Schattenberg diminta menandatangani dokumen, di mana antara lain mereka harus menyatakan: “Kita tidak mengenal apa yang di katakan organisasi KRPPT dan berpendapatan bahwa: Oganisasi ini dibangunkan hanja memetjah-belakan kita dengan kita jang mengakibatkan melemahkan perdjuangan RMS.” Namun Pengurus PPS yang terdiri dari 13 orang di Schattenberg menolak membubuhkan tanda tangan mereka dan pulang ke rumah masing-masing.

Resolusi yang tercatat di bawah nomor: 30/PO4/SP/53/MRN dan tertuju pada wakil luar negeri RMS di Rotterdam tersebut tidak pernah diumumkan. Maka datanglah periode intimidasi baru. Dan ini akhirnya berujung pada penganiayaan Marantika. PPS dan sebagian besar pengikutnya pindah ke kamp Golf Links di Arnhem. Kesimpulan? Konflik di pemukiman-pemukiman tersebut bersifat politik, yang dimainkan melalui perbedaan entis.

* Tokoh masyarakat Maluku dan diaspora di Belanda

 

 

 

 

 

 

Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s