“Jangan meremehkan partai populis seperti PVV!”

Geert Wilders, pemimpin PVV ©©Rijksoverheid/Phil Nijhuis

Geert Wilders, pemimpin PVV
©©Rijksoverheid/Phil Nijhuis

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, menyatakan, tidak mungkin ia akan berkoalisi dengan Partai untuk Kebebasan atau Partij voor de Vrijheid di bawah pimpinan Geert Wilders. “Itu tidak akan terjadi, karena programnya bertentangan dengan prinsip negara hukum,” katanya di acara televisi Zomergasten. Dalam program partai anti Islam PVV yang terdiri dari hanya satu halaman kertas ukuran A4 antara lain tertulis: “ingin membubarkan masjid dan sekolah Islam.”

PVV unggul
Tanggal 15 Maret 2017 Belanda akan menggelar pemilihan anggota parlemen. Hasilnya menentukan siapa yang bisa menjadi perdana menteri. Perdana

Menteri petahana, Mark Rutte, sudah menyatakan akan mencalonkan diri lagi sebagai perdana menteri dari partai liberal konservatif VVD. Menurut exit pol belakangan, PVV unggul. Namun, andaikan menang pemilihan, partai populis ini tidak bakal memerintah. Masalahnya tidak ada partai yang mau berkoalisi. Makanya banyak pihak yang meremehkan partainya Geert Wilders yang berdarah Indo itu. Apalagi kalau programnya hanya berupa secarik kertas ukuran A4.

Sebaliknya, Jan Jaap de Ruiter, pakar Arab di Universitas Tilburg, memperingatkan agar janga menganggap remeh PVV. Di sebuah kolom di koran NRC ia menulis, karena banyak kursinya di parlemen, PVV bisa bertambah mampu mempengaruhi pemerintah. Hampir sama dengan Rutte, de Ruiter menilai program PVV yang bersuara populis itu bertentangan dengan Konstitusi Belanda dan bisa membunuh demokrasi. “Suara populis yang ingin menjadikan Belanda tanpa Islam dan tanpa muslim adalah bertentangan total dengan konstitusi,” tulisnya. Pasal 1 Kontitusi Belanda menjamin bebas dari diskriminasi dan pasal 6 menjamin kebebasan beragama.

Bahaya populisme
De Ruiter juga melihat bahaya populisme di Eropa yang makin banyak pendukungnya. Ia khawatir, kalau kelompok populis menang, maka akan muncul rezim totalitaris. Karena, totalitarisme bisa lahir dari demokrasi seperti yang pernah disebut filsuf Prancis Claude Lefort (1924-2010). Maksudnya berhati-hatilah demokrasi itu bisa dikalahkan oleh totalitarisme. “Sepatutnya kita intensifkan perjuangan demokrasi, berwaspada dan usahakan agar demokrasi tidak musnah,” simpul dosen di Universitas Tilburg ini.

Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s