Kasus Arcandra Tahar berdampak bumerang bagi Diaspora

Sam Pormes ©kompasiana.com

Sam Pormes
©kompasiana.com

Setelah terjadi kasus Arcandra Tahar, masalah Dwi Kewarganegaraan (DK) dan Diaspora menjadi “hype” di media. Argumen-argumen untuk memenuhi keinginan Diaspora Indonesia memilik DK muncul di permukaan. Menurut Sam Pormes atau banyaknya diberitakan masalah DK di media, bisa bedampak negatif bagi perjuangan DK. 

* Sam Pormes

Ciri-ciri khas orang-orang populis adalah cepatnya bereaksi terhadap perkembangan aktual. Menjelang perayaan HUT RI ke-71 lalu menteri ESDM Arcandra Tahar dipecat padahal baru diangkat. Sebenarnya ini adalah pukulan buat pemerintahan Jokowi tetapi oleh segelintir diaspora disambut baik.

Bukan karena alasan politik, tapi karena pemecatan Alcandra berrkaitan dengan kenyataan bahwa ia tidak berkwarganegaraan Indonesia sehingga menyulut debat sengit di masyarakat. Sebelumnya hampir tidak ada perhatian serius terhadap keinginan Diaspora untuk memperoleh Dwi Kewarganegaraan (DK). Yang terjadi selama ini terutama lip service, seperti apa yang dilakukan oleh politikus yang mementingkan diri sendiri.

Memuaskan ego
Di Amerika puluhan ribu dolar diambil dari kocek para diaspora untuk mempercepat proses pengesahan DK. Untuk membuktikan keberhasilan mereka, ratusan foto selfie bersama para tokoh pemerintahan, politisi dan pejabat senior diupload di media sosial.

Kelihatannya mengesankan, tapi dalam praktek tidak banyak artinya. Media sosial adalah gejala pascamodern, terutama untuk memuaskan rasa egoisme. Dalam hal ini kasus Arcandra berjasa besar. Setelah ia dipecat muncullah silang pendapat besar-besaran di media.

Sebelumnya belum pernah masalah DK merebut posisi penting di agenda politik. Lalu kelompok diaspora berebut mengaku berjasa atas keberhasilan ini. Tetapi tidak ada nilai tambah yang disumbangkan.

Argumen lama
Argumen-argumennya masih seperti dalam penyataan-pernyataan yang sudah beberapa kali dikemukakan sebelumnya. Argumen yang paling banyak disebut adalah kepakaran yang dimiliki diaspora. Para ahli ini bisa ikut meningkatkan derajat bangsa setinggi-tingginya. Alasan lain adalah cinta tanah air. Tapi tidak jelas bagaimana perwujudannya.

Di CNN Indonesia belum lama berselang ditayangkan perdebatan yang memalukan antara Nuning Hellett dari Tim Advokasi Jaringan Diaspora Indonesia dengan mantan menteri keuangan Fuad Bawazier.

Nuning Hallett
Dalam acara itu Fuad memperlihatkan kecekatannya untuk mementahkan argumen Nuning. Menurut mantan menteri keuangan ini, motif diaspora ingin mempunyai dua kewarganegaraan adalah untuk kepentingan pribadi. Menurut dia, Pemerintah dan Parlemen harus mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan pribadi. Fuad di sini berhasil menyinggung kelemahan utama Diaspora.

DK bukanlah solusi bagi masalah-masalah yang mereka sebutkan. Keinginan diaspora untuk memperoleh visa lebih mudah, izin kerja dan keingingan untuk dimakamkan di tanah air bisa dipenuhi tanpa perlu adanya DK.

Diaspora hendaknya fokus pada pada masalah-masalah apa saja yang sejatinya diselesaikan dengan DK tersebut. Dan apakah ada proporsionalitas dalam hal ini?

Pengorbanan diaspora
Juga harus dirumuskan dengan jelas sampai di mana diaspora bersedia berkorban. Banyak negara yang membuat syarat yang ketat terhadap DK. Misalnya pengetahun bahasa, budaya dan sejarah negara terkait, yang tergabung dalam paket ujian kewargaan.

Selanjutnya cinta tanah air harus dibuktikan dengan kenyataan. Tidak hanya lip service atau klise saja, tapi harus konkret.  Kita ambil sebagai contoh Kongres Diaspora Indonesia di Eropa yang lalu. Di sana diputuskan bahwa Diaspora akan mengatasi dampak Perubahan Iklim Global dan menyelanggarakan proyek Tujuan Pembangunan Berkesinambungan atau Sustainable Development Goals (SDG).

Mari kita bikin daftar diaspora dan berlakukan pajak diaspora 10 dollar per bulan. Dengan demikian proyek-proyek SDG tersebut bisa diwujudkan, diawali di provinsi-provinsi termiskin di Indonesia. Dengan demikian diaspora benar-benar menyumbang kepada bangsa dan tanah air.

Sumpah Arcandra
Lalu bagaimana dengan kasus  Arcandra Tahar? Ah itu hanya kesalahan kecil? Sebenarnya DK sudah lama dipraktekkan oleh kelompok elit dan olahragawan yang berprestasi istimewa.

Untuk menyenangkan publik hal ini akan ditegaskan lagi sehingga DK dapat terwujud. Dengan rendah hati saya bertanya-tanya, apakah yang ada di benak Arcandra ketika ia bersumpah setia untuk membela Konstitusi Amerika serta mendukung  dan membela UU Amerika. Lalu apakah artinya kalau Trump terpilih sebagai presiden Amerika Serikat.

* Sam Pormes adalah Wakil Ketua IND NL, tapi opini ini ditulis atas nama pribadi. 

Pos ini dipublikasikan di Berita, Kolom/Analisis dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s