Masa Lalu Keluarga Kerajaan Belanda di “Indonesia”

Dalam pidatonya pada jamuan makan kenegaraan di Jepang Raja Belanda Willem-Alexander mengimbau Kaisar Jepang untuk memperhatikan masa lalu. Di saat perang dunia kedua banyak warga Belanda menjadi korban kekerasan Jepang terutama di Indonesia yang dulu disebut Hindia Belanda. Sam Pormes, warga Belanda asal Maluku, menganggap perlu untuk mengingatkan Raja Belanda akan perbuatan nenek moyangnya Raja Willem I dan buyutnya Ratu Wilhelmina. Simak selengkapnya pidato alternatif mantan anggota Senat Belanda di bawah ini.

Yang Mulia Raja Willem-Alexander dan Yang Mulia Ratu Maxima

Senang sekali kami menjadi tamu Anda dan Ratu Maxima. Sambutan Puteri Amalia kepada kami menambah rasa syukur kami. Kami sudah 63 tahun tinggal di negeri Anda. Untuk pertama kali kami menjadi tamu Anda di sini di mana kita memiliki bersama sejarah yang istimewa dan kami yakin kita juga akan berbagi masa depan yang berhasil.
Orang Belanda pernah mengunjungi kepulauan kami mencari rempah-rempah. Sekarang kami berada di negeri Anda, karena Anda pernah berada di sana. Tiga ratus lima puluh tahun Anda menindas dan memeras kami. Kerajaan Anda menjadi kaya raya. Ribuan orang dipaksa masuk Kristen.

Lebih dari seratus tahun Maluku menjadi penghubung penting antara Indonesia dan Barat. Sebuah jembatan kecil yang menghubungkan dua dunia, dua budaya dan dua peradaban. Jembatan yang dilewati setidaknya oleh cengkeh, pala, teh, kopi, tekstil, emas dan kekayaan-kekayaan lain.
Tapi perdagangan di saat itu tidak bisa disebut adil. Ribuan diperlakukan sebagai abdi dan budak. Perempuan-perempuan dirampas demi untuk mengagungkan kawula yang Anda banggakan. Selama berabad-abad Keluarga Anda berpartisipasi dalam sejumlah perusahaan, mulai dari nenek moyang Anda Raja-Saudagar Willem I. Ia unggul dalam penyuapan, pemerasan dan dalam menyimpan rahasia. Di bawah pimpinannya pada 1842 didirikan Maskapai Dagang Belanda Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM).
Nenek moyang Anda memasuki sejarah sebagai penggagas tanam paksa. Bangsa kami diwajibkan memanfaatkan dua puluh persen tanah untuk produk pemerintah kolonial. Produk-produk yang bisa dijual di Eropa seperti indigo, kopi, teh, gula dan tembakau.
Nenek moyang Andalah yang menentukan harga. NHM yang mengurus transpor dan penjualan produk dari Hindia Belanda. Dengan begitu NHM, yang nenek moyang Anda Willem I merupakan pemegang saham utamanya, sangat banyak meraup untung.
Kerja paksa penuh ketidakadilan. Banyak pegawai negeri dan raja-raja pribumi mendapat apa yang disebut “cultuurprocenten”. Karena memperoleh keuntungan dari hasil bumi, maka mereka memilih lahan terbaik untuk penanaman produk-produk yang termasuk dalam kategori tanam paksa. Kadang-kadang mereka juga menuntut lebih banyak dari dua puluh persen lahan pertanian yang sah.

Dan rakyat hanya mendapat upah menanam yang semakin dikurangi jumlahnya. Hanya pemerintah Belanda dan Keluarga Kerajaanlah yang menikmati sistem tanam paksa. Penduduk negara jajahan dilanda kematian karena kelaparan.
NHM memang disebut sebagai pengganti Kongsi Perdagangan Hindia Timur atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Dan pengaruh keluarga Kerajaan sangat jelas. Sampai 1870 NHM meraup 823 juta gulden. Pada 1840 kekayaan nenek moyang Anda Willem I sekitar tiga puluh juta gulden. Kalau dihitung dalam euro sekarang berarti 300 juta euro.
Anda pasti tahu siapa Wolter Robert van Hoëvell. Pada 1848 ia mengundurkan diri sebagai pegawai penting. Sekembalinya di Belanda ia menjadi anggota Parlemen untuk memperjuangkan nasib penduduk Hindia Belanda. Ia menyamakan situasi kehidupan warga pribumi dengan budak. Banyak buku yang ditulisnya tentang ketidakadilan kerja paksa antara lain “Emansipasi budak di Hindia Belanda”.
Ratu Emma, nenek dari nenek Anda, sama seperti nenek moyang Anda yang laki-laki, tidak mempermasalahkan kebijakan pemerasan negara. Ia juga pengagum jenderal Van Heutsz, yang menumpas pemberontakan di Aceh. Keuntungan dari Hindia Belanda tidak boleh hilang.

Penulis tanah air kami Pramoedya Ananta menulis dalam novel historisnya Bumi Manusi, bahwa pemuda Jawa Minke benar-benar terkesan oleh potret Ratu Wilhelmina yang muda dan misterius: “seorang dara, cantik, kaya, berkuasa, gilang-gemilang, seorang pribadi yang memiliki segala, kekasih para dewa”.
Menurut sejarawan Drooglever, Ratu Wilhelmina merupakan simbol kekuasaan Belanda dalam negara kolonial modern. Saat ia berkuasa, aparat pemerintahan Belanda meluas menguasai seluruh nusantara, sehingga bertambah banyak rakyat Indonesia berurusan dengan pemerintahan kolonial; “Makin banyak pegawai dan militer pribumi diajari ideologi Kerajaan Belanda, di mana cinta kepada raja dan tanah air berperanan penting”.
Kegembiraan warga pribumi pada pesta Hari Ratu menjadi tolok ukur loyalitas mereka terhadap pemerintah kolonial, namun Drooglever memperingatkan: “Perlu dilihat sampai di mana suatu fakta bisa dipercaya”.
Dia benar. Atas nama Keluarga Kerajaan Anda, ratusan ribu orang terbunuh dalam perjuangan kemerdekaan.

Yang Mulia,
Kami tahu Anda menyampaikan pidato yang ramah dan inspiratif di jamuan makan kenegaraan Kaisar Jepang. Bergejolak dan penuh persetujuan kami membaca pidato Anda. Dalam pidato itu Anda meminta untuk memperhatikan para korban perang.

“Pengalaman warga sipil dan militer tidak boleh dilupakan dan pengakuan penderitaan adalah dasar rekonsiliasi. Luka yang tertoreh bertahun-tahun, masih menguasai kehidupan banyak orang. Penderitaan korban masih terasa pedih.”
Kolonialisme berlangsung 350 tahun.
Penderitaan ini masih belum diakui.

Yang Mulia,
Dengan senang hati saya mau mengundang hadirin untuk mengangkat gelas untuk kesehatan Anda, Yang Mulia, untuk kesehatan Ratu Maxima dan untuk semua keluarga Anda. Semoga persahabatan kita tumbuh dan berbuah di tahun-tahun mendatang.

 

Sam Pormes

Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s