Tradisi Jawa Abangan di Belanda

Sekitar seminggu setelah Idul Fitri lalu saya diundang oleh Pak Kaboel Karso untuk menghadiri acara kawilujengan. Kaboel Karso adalah ketua SJiF (Setiga Jawa  ing Flevoland), sebuah Yayasan Jawa Suriname di Flevoland, sebuah provinsi yang dibangun di kawasan reklamasi, yang terletak sekitar 30 kilomenter di Utara Amsterdam, Belanda.

Ini bukan kali pertama saya diundang dalam kegiatan-kegiatan orang Jawa Suriname. Saya selalu diundang kalau mereka ada kegiatan, tapi saya tidak selalu bisa hadir. Sekitar lima tahun lalu saya juga pernah diundang dalam acara semacam halal bilhalal khas Jawa Suriname yang disebut Bakda atau Ba’da ini. Waktu itu mereka mengundang penceramah orang Jawa Suriname Remy Soekirman. Waktu itu isi ceramahnya tidak berbeda dengan tausiah agama di Indonesia. Cuma bedanya ceramah ustad jebolan Arab Saudi ini berbahasa Belanda.

Namun kali ini bukan hanya pembicaranya yang berbeda tapi acaranya pun berbeda sekali. Tidak ada ceramah agama Islam “murni” seperti yang disampaikan oleh ustad Remy. Tapi yang ada adalah acara selamatan adat Jawa. Dua orang ‘rohaniwan” memimpin ritual itu dalam bahasa Jawa, yang saya tidak bisa mengerti semua. Di sela-sela itu dibacakan juga ayat-ayat Al Quran dengan logat Jawa. Di depannya ada menyan dibakar.

kawi

Kawilujengan
Menurut Kaboel Karso kaliwujengan biasanya digelar enam hari setelah Idul Fitri. Dari satu segi ini berkaitan dengan Islam, tapi di segi lain ada hubungan dengan tradisi Jawa. Kebiasaan ini sudah terjadi sebelum datangnya Islam di Jawa, di zaman agama Hindu. Dulu namanya Bakda Cilik, semacam upacara mengenang anak kecil yang meninggal.

“Di Belanda cukup banyak orang Jawa Suriname yang masih melaksanakan upacara-upacara seperti ini,” tambah Kaboel. Ia juga menambahkan, orang-orang Jawa yang hijrah ke Suriname pada akhir abad ke-19 sebagai buruh kontrak membawa adat istiadat Jawa di zaman itu. Misalnya mereka masih suka menyelengarakan acara mitoni, nyukur dan berkiblah ke Barat.
Soal kiblah ini orang Jawa Suriname terbelah dua: ke Barat yang dalam bahasa Belanda disebut Westbidders dan ke Timur atau Oostbidders. Westbidders berpegang teguh pada kebiasaan nenek moyang mereka dari Jawa. Di jawa orang sholat menghadap ke Barat, karena Mekkah dari posisi Jawa berada di Barat. Dari posisi Suriname Mekkah terletak di Timur. Makanya sebagian orang Jawa Suriname mengubah kiblatnya ke arah Timur. Yang disebut terakhir ini, menurut Kaboel, dipengaruhi oleh Islam Arab. Ditanya apa tanggapannya terhadap pihak-pihak yang menganggap Islam kejawen itu tidak murni, Kaboel mengatakan: “Ini masalah interpretasi.”

Westbidders vs Oostbidders
Ketua SJiF tidak sependapat dengan pembagian dua kategori orang Jawa Suriname. Menurut dia, justru ada tiga kelompok. Pertama, kelompok yang berkiblat ke Barat dan tetap mempertahankan adat istiadat Jawa seperti mitoni, ba’da kupat, nyukur dan lain-lain. Kedua, kelompok yang berkiblat ke Timur, tapi juga masih menyelenggarakan upacara-upacara adat Jawa. Dan ketiga, kaum yang berkiblah ke Timur dan sudah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tersebut. Golongan ini disebut oleh ilmuwan sebagai kelompok reformis.

Kaboel menegaskan acara seperti kaliwujengan ini penting diselenggarakan demi pelestarian budaya Jawa. Ia menyayangkan kalau kebiasaan-kebiasaan seperti ini ditinggalkan.

Lalu apa sih definisi orang Jawa? “Sulit untuk mendefiniskan orang Jawa, “ katanya. Masalahnya orang Jawa bukan hanya dilihat dari warna kulitnya, dan bahasanya saja. “Tapi yang jelas ada kaitannya dengan norma dan nilai kejawaan,“ jelasnya.
Terlepas dari murni atau tidaknya Islam orang Jawa Suriname pengikut Westbidders yang mempertahankan tradisi Islam abangan, yang jelas dapat disimpulkan di sini, bahwa para perantau biasanya cendrung mempertahankan adat lama dari negara atau daerah yang ditinggalkannya. Saudara-saudara kita orang Jawa Suriname ini ingin mempertahankan kebiasaan yang dibawa oleh nenek moyang mereka dari Jawa ketika mereka hijrah ke negara Amerika Latin itu sekitar tahun 1890.

Bari Muchtar

Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Tradisi Jawa Abangan di Belanda

  1. clementino berkata:

    lakum dinukum waliyadin…long live javanese..!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s