Dua Pertemuan Tentang Islam dan Demokrasi di Indonesia

Indonesia sebagai negara yang berpenduduk muslim yang berjumlah besar berhasil menunjukkan, bahwa Islam dan demokrasi bisa berdampingan. Apakah elemen-elemen yang menentukan dan pelajaran apa yang bisa diambil? Demikian tertera dalam undangan Pertemuan Meja Bundar (Roundtabel Meeting) yang akan digelar di gedung senat Belanda De Eerste Kamer pada tanggal 25 Juni 2014.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh  Organisasi persahabatan Indonesia Belanda Indonesia Nederland Society (INS). Kegiatan lain yang digelar “society” yang didirikan Maret 2012 ini adalah seminar dengan topik yang sama di Universitas Leiden. Seminar ini diselenggarakan hari Kamis tanggal 26 Juni, atas kerjasama dengan KITLV atau Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Lembaga Kerajaan Belanda untuk Studi Asia Tenggara dan Karibia)

Dua pembicara utama atau keynote speaker dalam dua acara tersebut adalah Professor Azyumardi  Azra dan Dr. Nikolaos van Dam.  Professor Azyumardi Azra adalah salah seorang tokoh cendekiawan muslim di Asia Tenggara. Ia adalah guru besar sejarah dan Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.  Professor Azyumardi Azra telah menulis  31 buku dalam Bahasa Indonesia, Inggris dan Arab dan menjadi penasehat di sejumlah lembaga internasional.

Dr. Nikolaos van Dam is adalah pakar Timur Tengah dan pensiunan diplomat Belanda yang pernah menjabat dubes Belanda di Indonesia, Jerman, Turki, Mesir dan Irak. Ia lulusan studi Bahasa Arab dan Islam, serta Sospol di Universitas Amsterdam.  Pada 2005-2010 ia menjadi dubes Kerajaan Belanda untuk Republik Indonesia dan Timor Leste.  Dr. Nikolaos van Dam berhasil menulis berbagai buku dan 80 artikel dalam bahasa Inggris, Arab dan Indonesia.

Kedua kegiatan ini diselenggarakan bekerjasama dengan Kedutaan Besar Repuplik Indonesia (KBRI) Den Haag. Dubes RI untuk Kerajaan Belanda Ibu Retno Marsudi akan menyampaikan sambutan pada acara di gedung Senat Belanda De Eerste Kamer.

Pertemuan yang diadakan di gedung Eerste Kamer bersifat tertutup, sementara yang di Universitas Leiden terbuka. Namun untuk ikutserta perlu juga mendaftarkan diri. 

Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s