Sampai di Mana Kebebasan Beragama dan Pers di Indonesia?

Tanggal 13 Juli lalu warga Ahmadiyah di desa Cisalada diserang sekelompok orang yang konon berasal dari desa tetangga. Ada yang mengatakan, tidak jelas para penyerang itu dari mana. Menurut kepolisian, serangan itu disulut oleh kedatangan kru televisi dari Belanda.

Mereka meliput di desa itu untuk membuat acara yang dalam bahasa disebut Zoek de vershillen atau Cari Perbedaan. Acara ini menayangkan liputan tentang seorang remaja Belanda dari berbagai agama yang dikirim ke pelbagai negara. Acara ini terdiri dari berbagai episode. Tiap episode menampilkan liputan agama tertentu.

Syuting di Cisalada itu adalah untuk mengikuti jejak muslimah Belanda, Marjolein Kamp, yang menginap di keluarga Ahmadiyya di desa di Jawa Barat itu. Tapi rekaman film yang direncanakan memakan waktu tiga hari itu, terpaksa dihentikan. Seusai sholat Jumat dan makan bakso, tiba-tiba perempuan Belanda ini dievakuasi oleh polisi, karena kasus penyerangan tersebut.  Akhirnya ia dibawah ke kantor kepolisian Bogor dan sempat ditahan sekitar delapan jam di sana. Setelah itu muslimah berjilbab ini diangkut ke Jakarta dan kemudian pulang ke Belanda.

Marjolein, yang dibesarkan di keluarga Kristen yang religius  itu, masuk Islam enam tahun lalu. Keluarganya sebenarnya tidak setuju ia masuk Islam dan menikah secara Islam dengan seorang warga asal Pakistan yang tinggal di Jerman. Ibunya beranggapan,  Islam adalah agama yang menindas perempuan dan mengajarkan kekerasan. Malah ibunya menilai Islam sebagai agama teroris.

Meski tidak setuju puterinya masuk Islam, tapi mereka tetap berhubungan baik dengan puteri mereka. Bapaknya mengatakan, Marjolein berhak untuk memilih agama apapun.

Lalu bagaimana pendapat mualaf ini tentang peristiwa penyerangan di Cisalada tersebut?

Di penghujung acara Zoek de Vershillen, muslimah Belanda yang sebenarnya tidak setuju dengan  faham Ahmadiyah ini sangat menyayangkan tindak kekerasan itu. “Saya juga tidak setuju dengan Ahmadiyah, Tapi kenapa harus diserang seperti itu,” katanya. Ia bertanya-tanya kenapa tidak berdialog dengan baik. Marjolein malah meragukan keislaman para penyerang.  Mereka menyalahgunakan Islam, katanya. Islam kan tidak menyukai kekerasan.

Marjolein juga mempertanyakan kenapa para penyerang tidak ditindak. Menurut berita terakhir, kasus Cisalada ini telah diselesaikan secara damai. Dan polisi tidak mengusut para pelaku lebih lanjut. Lalu apa yang dapat disimpulkan dari peristiwa ini? Para pembuat acara di televisi Belanda itu menyimpulkan, bahwa peristiwa ini merongrong kebebasan beragama dan kebebasan pers di Indonesia.

Sumber: uitzendinggemist Zoek de Verschillen

Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s