Perlukah Penderitaan Orang Belanda di Indonesia Diceritakan?

Di pertengahan Agustus lalu televisi Belanda manyiarkan dokumenter berjudul Het Archief van Tranen (Arsip Air Mata). Dokumenter yang disiarkan oleh organisasi penyiaran Max itu menceritakan kekerasan pemuda pejuang kemerdekaan RI terhadap warga Belanda.

Pada saat itu setidaknya 3500 warga Belanda berdarah campur Indonesia-Eropa dibunuh secara sadis dengan golok dan bambu runcing. Sekitar 4000 perempuan dan anak-anak Belanda menderita kelaparan, penyakit dan kelelahan. Sebagian ditahan di kamp-kamp yang dikelolah oleh kelompok nasionalis Indonesia. Pada saat itu  sekitar 16000 warga Belanda hilang, termasuk warga Tionghoa yang berkewarganegaraan Belanda. Jasad mereka tidak pernah ditemukan. Walhasil, banyak orang Belanda juga menjadi korban.

Ibu Joty ter Kulve (85 tahun), seorang warga Belanda kelahiran Hindia Belanda, nama Indonesia di zaman penjajahan Belanda dulu, mempertanyakan apakah dokumenter seperti itu perlu dibuat dan disiarkan. Dalam suratnya kepada organisasi penyiaran Max, Ibu Joty menulis, bahwa dirinya sebagai orang Belanda yang mengalami sendiri peristiwa itu, tidak mau berprilaku sebagai “korban”.

Saya akan coba untuk mengungkapkan perasaan saya dengan tujuan untuk memberikan gambaran yang tepat tentang zaman itu.
Seusai PD (Perang Dunia) II, ibu saya menyadari – ayah saya sudah meninggal ketika itu- bahwa kondisi pendidikan di Hindia Belanda paska perang, sangat sulit. Tanpa pamrih dan dengan bijaksana Ibu pun memutuskan, untuk mengirim saya dan adik saya ke Belanda. Ketika itu saya berusia 18 tahun dan adik lelaki saya berumur 15 tahun. Keberangkatan ke Belanda saat itu bisa dilakukan, karena pemerintah Belanda menyediakan kapal laut untuk mengevakuasi para pengungsi ke negeri asal.

Sambutan warga Belanda

Di Belanda, yang saat itu baru usai menghadapi perang melawan Jerman, kami ditampung di losmen-losmen murah, rumah-rumah penduduk, dan asrama tentara. Melihat kondisi ketika itu, ini merupakan tugas berat bagi Belanda. Selain itu warga Belanda awam kurang bisa memaklumi nasib para teman senegaranya yang pernah tinggal di daerah jajahan, apalagi untuk memahami penderitaan perang orang Indo- Belanda dari Indonesia itu.

Meski saya waktu itu termasuk kategori migran miskin, seorang gadis berusia 18 tahun tinggal tanpa orang tua di Belanda, saya tidak mau dikasihani dan merasa “korban”. Saya tidak mau meninggal dunia sebagai korban PD II. Banyak di antara kami, yang pernah mengalami penderitaan di kamp-kamp internering Jepang dan penderitaan di zaman perjuangan kemerdekaan RI, merasakan Belanda pada saat itu sebagai oase. Meski tidak banyak uang dan pakaian, tapi saya senang saat itu masih bisa kuliah, makan, tidur dan bekerja dengan bebas.

Pengakuan

Terus terang saya juga pernah mengalami mimpi buruk, penderitaan, kesedihan dan rasa putus asa. Namun saya bertanya-tanya apakah pada tahun 2012 ini kita masih perlu meminta pertanggungjawaban pemerintah Belanda sekarang. Dan perlukah kita membuat sebuah dokumenter yang paternalistik penuh peristiwa kejam dengan menggunakan dana dari pemerintah (Max adalah sebuah organsisasi penyiaran yang disubsidi pemerintah Belanda. red),  untuk memberi informasi kepada warga Belanda? Dan patutkah kita menuntut pemerintah Belanda sekarang mengakui penderitaan kita?

Apakah ini yang saya inginkan? Apakah saya harus memaksa cucu-cucu saya untuk mengetahui dan mengakui penderitaan saya di masa silam? Apa gunanya? Apa yang mau saya capai? Kenapa saya harus menuntut pengakuan Perdana Menteri Rutte, yang ayahnya juga mengalami penderitaan yang sama dengan saya.

Yang saya inginkan dari cucu-cucu saya, adalah agar mereka tidak berprilaku sebagai korban. Mereka harus belajar mencari kekuatan untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Demikian surat Ibu Joty ter Kulve kepada Max, organisasi penyiaran Belanda yang menayangkan dokumenter Het Archief van Tranen.

Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , . Tandai permalink.

17 Balasan ke Perlukah Penderitaan Orang Belanda di Indonesia Diceritakan?

  1. casver baskara berkata:

    hi saya casper baskara, sy keturunan belanda di indonesia. menurut saya itu wajar untuk di publikasikan di belanda, supaya orang orang tau bahwa warga belanda atau keturunan belanda juga menjadi saksi bisu atas kekejaman perang, yang di lakukan oleh orang orang indonesia itu sendiri, thank u.

    • putra nusantara berkata:

      Terbalas sudah penderitaan bangsa yang sekarang bernama indonesia ini terhadap belanda. Tahun 1942 itu tidak akan pernah dilupakan oleh belanda. Semua orang belanda hindia belanda / indonesia sekarang habis disemblih. Ditusuk bambu runcing di cincang ditebas golok dan samurai dan senjata mesin dan torpedo jepang. Dan penduduk. Indonesia.

  2. firda hakikie berkata:

    sy firda hakikie juga keturunan belanda di indonesia,tidak masalah kalau berita seperti itu dipublikasikan,karena juga salah satu dr korban perang juga. perang itu seperti cinta, sama2 buta.

  3. V berkata:

    Saya juga keturunan Belanda, menurut saya sejarah itu wajar, ada pertumpahan darah, ini memang mengerikan. Tapi di suatu sisi dari pihak opa saya orang belanda juga kejam terhadap orang-orang yang di jajahnya (dulu) tapi itukan “Dulu”. Jelas mereka orang Indonesia marah dan mau mengusir sampai membunuh. Karna mereka marah di jajah. Walaupun tidak semua orang Belanda itu kejam terhadap orang Indonesia. Dan Kalau sudah sejarah untuk apa di teruskan? Bukankah lebih baik menjalin persaudaraan? Karna memang darah Belanda dan Indonesia sudah banyak yang bersatu.

  4. Hi saya Aditya Von Herman, menurut saya wajar saja dipublikasikan (karena sejarah itu penting untuk generasi yang akan datang, melestarikan sejarah itu adalah bijak) tetapi publikasi yang netral dan tidak memihak salah satu bangsa/negara…. Danke…

  5. kaum pribumi berkata:

    kalau penderitaan orang belanda di indonesia perlu diceritakan maka penderitaan pribumi yang dijajah belanda pun juga harus diceritakan. itu akan lebih adil dan tidak akan menimbulkan kesalahpahaman dikemudian harinya

    • berita belanda berkata:

      Penderitaan orang Indonesia di bawah penjajahan Belanda makin banyak diceritakan ke publik Belanda oleh media. Misalnya kemarin ada tulisan tentang perang di Bali, yg dibilang sebagai perang kotor atau dalam bahasa Belanda vuile oorlog. Pembantaian oleh Westerling di Sulawesi selatan dan di Rawagede juga banyak disorot media Belanda. Malah seorang pengacara Belanda Liesbeth Zegveld bertindak sebagai pembela mereka untuk memperoleh ganti rugi dari pemerintah Belanda. Dan itu berhasil.

  6. Afsel Yosefen berkata:

    Hy all, nama saya afsel. Ibu saya keturunan Belanda-Polandia-Sunda. Sedangkan ayah saya keturunan jerman-sunda. Mnurut cerita ayah saya, dulu pada tahun 1943 ayahnya,orng jerman dibawa oleh belanda ke sebuah kapal buangan ke burma. Respon perang di eropa nazi mnyrng blnda. Sdangkan ibu saya, menderita kemiskinan dan kesulitan ekonomi turun temurun semenjak masa kemerdekaan. Tapi nmurut saya tidak sdikit juga orng indonesia yang dibunuh, dan menjadi kekejaman perang.

  7. H Kurniawan berkata:

    membaca ulasan ini saya jadi ingat buku kecil Paula Gomes yang berjudul ya sudah lah.. dalam buku itu, penulis yang lahir di Jakarta dari ayah seorang Belanda dan ibu Indonesia, menceritakan pengalamannya di masa bersiap atau revolusi kemerdekaan.. masa yang sangat kelam bagi orang Belanda.. meski tidak pernah sebanding dengan apa yang sudah dilakukannya terhadap rakyat Indonesia.

    • berita belanda berkata:

      Terima kasih, H. Kurniawan.

    • H Kurniawan berkata:

      kendati begitu, hal itu tetap penting untuk diketahui oleh rakyat Belanda kini.. karena itu bagian dari sejarah mereka juga. termasuk penjajahan dan kekejaman yang mereka lakukan terhadap Indonesia..

      • berita belanda berkata:

        Justru dokumenter ditayang di tv Belanda supaya diketahui publik Belanda dan ada beberapa sejarawan Belanda yg ingin memasukkan versi Indonesia dalam buku pelajaran sejarah ttg zaman perjuangan kemerdekaan indonesia ini

  8. Devina berkata:

    Saya mencari info tentang kakek buyut saya. Dia orang belanda & dia merubah namanya ke nama indonesia & juga dia menjadi WNI. Dia juga pernah tinggal di surabaya & jombang. Jika ada info mohon beritahu saya. Trims

  9. cucu.veteran berkata:

    Maaf agan” yg keturunan belanda,sebelumnya MERDEKA…..MERDEKA…..MERDEKA !!!!
    Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 bukan 1949, saya mau bertanya sedikit,bagaimana perasaan para janda,veteran korban belanda bila mendengar ini? Jujur walau saya hanya cicit dari salah seorang veteran yg dulu dianggap penjahat,jagal,perampok,extrimis,dll oleh “Baji**n” Belanda,sampai sekarang saya dan mungkin banyak lagi orang indonesia yg masih dendam atas kejadian dimasa lampau. Sebenarya saya ingin sekali melampiaskan dendam saya kepada semua orang yg ada bau” Belanda tp karena Indonesia adl negara hukum bukan negara westerling,jadi kami terhalangi oleh hukum yang ada,maaf sekali lagi saya ingin mengatakan isi hati saya bahwa “semua kakek,ayah,keluarga anda yg pernah ikut menjajah dan mendukung agresi belanda adalah anjing,persetan dengan sejarah,sekali anjing tetap anjing dan ingat kmi bukan bangsa pembunuh,karena kakek atau ayah anda semua(belanda) memulai duluan ya kami balas,ganti nyawa dengan nyawa dan kami adalah bangsa yg lebih mulia dari pada bangsa penjajah seperti belanda”
    MERDEKA…MERDEKA….MERDEKA

  10. fian berkata:

    Penderitaan warga belanda belum setimpal dengan apa yg telah mereka perbuat kepada pribumi bung,baru 3000 an kan yg jadi korban,itu saja belum setara dengan korban pribumi akibat kekejaman westerling,pikir coba pikir,mungkin sampai detik ini masih banyak janda,veteran dan keluarganya yg ingin dendam atas keluarga mereka terbalaskan… MERDEKA,MERDEKA,MERDEKA……..!!!!

  11. ya , saya setuju , masa lalu adalah sejarah.. dan sejarah adalah ilmu fakta dan benar benar terjadi,. wajiblah itu di ketahui khalayak umum ,. mengingat masih ada saudara kita entah dari pihak indo atau belanda yang terpisah ,, ataupun kemungkinan untuk peluang menemukan darah yg terputus,. atau sekadar ingin mengingat masa lalu,.. dan ingatlah tidak ada ada manusia berbuat 100% benar . itu sudah suratan tuhan kita berdarah indo atau belanda ,. toh kita sama sama manusia , ,tidak ada perbedaan., jadikan lah sejarah menjadi wadah informasi .
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s