Pedagang Belanda Kurang Perhatikan Ramadan dan Idulfitri

Para pedagang dan pemilik toko di Belanda tidak menggunakan kesempatan untuk memberi perhatian khusus pada kaum muslimin sebagai konsumen, padahal  mayoritas warga muslim Belanda tidak ke luar negeri selama bulan Ramadan dan Idulfiri tahun ini. Di tahun-tahun silam umat Islam Belanda biasanya pulang ke negara asal seperti Turki dan Maroko untuk menunaikan ibadah puasa dan merayakan Idulfitri.

Supermarket Islam yang banyak dikunjungi selama Ramadan

Para pemilik toko salah antisipasi. Mereka menduga kaum muslimin tahun ini juga ramai-ramai akan pulang ke negara asal seperti biasanya. Demikian hasil penelitian lembaga Labyrinth Extenzio, yang melakukan jajak pendapat di kalangan para pedagang dan pemilik toko di Belanda. Hasilnya, hanya dua belas persen pemilik toko yang memberi perhatian khusus terhadap Ramadan dan Idulfitri tahun ini.

Ini sama jumlahnya dengan tahun lalu. Para peneliti menilai, ini suatu kesempatan yang tidak dimanfaatkan, karena pada musim panas ini mayoritas umat Islam tetap berada di Belanda. Alasannya, karena berpuasa di Maroko dan Turki (negara asal mayoritas muslim Belanda) lebih berat karena panasnya luar biasa di sana.

Hanya pertokoan di sektor parfum Douglas, pasar swalayan Albert Heijn dan  toko sepatu  Van Haren yang melakukan tindakan-tindakan khusus untuk menyambut Ramadan dan Idulfitri. Mereka misalnya tahu, bahwa umat Islam lebih banyak membeli pakaian, sepatu dan hiasan menjelang lebaran. Selain itu pembelian pangan juga meningkat.

Tidak adanya iklan atau diskon khusus untuk Ramadan dan Idulfitri menunjukkan bahwa para pedagang dan pemilik toko di Belanda kurang pengetahuan tentang muslim. Demikian kesimpulan Nathan Rozema dari Labyrinth.

Yang paling parah menurun Labyrinth adalah anggapan para pemilik toko di Belanda bahwa warga muslim tahun ini bakal ramai-ramai berlibur di luar Belanda, padahal ternyata kebanyakan dari mereka tidak “mudik”. Karena salah duga ini, maka para pedagang dan  pemilik toko di kota-kota besar di negeri kincir angin ini kehilangan kesempatan untuk meraih omset jutaan euro. Demikim simpul Rozema.
Sumber: http://www.nu.nl

Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s