Pameran Patung Pasir Tentang Indonesia

Pada tahun 2006 saya meliput pameran patung pasir di kota Apeldoorn, Belanda timur. Temanya adalah Indonesia. Silakan baca laporan di bawah ini.

Betoverend Indonesië atau Indonesia yang mempesona. Itulah nama pameran tentang Indonesia yang digelar di Apeldoorn, Belanda Timur Laut yang dibuka 17 Juni 2006. Pameran yang berlangsung sampai 27 Agustus 2006 itu memperlihatkan patung-patung yang menggambarkan keindahan Indonesia. Namun patung-patung tidak dibuat dari batu, tapi dari pasir, yang dalam bahasa Inggris disebut sandsculpture atau zandsculptuur dalam bahasa Belandanya.

Bari Muchtar

Pameran patung pasir yang bertema Bhinneka Tunggal Ika itu dibuka oleh Medy van der Laan yang waktu itu masih menjabat menteri muda urusan budaya Belanda. Dalam pidato pembukaannya Medy van der Laan mengatakan ini adalah untuk kedua kalinya dia membuka acara yang berkaitan dengan Indonesia. Belum lama berselang dia membuka Pasar Malam Besar di Den Haag dan sekarang membuka pameran ini.

Van der Laan juga sangat senang karena beberapa minggu kemudian akan bertolak ke Indonesia. (Beberapa hari setelah berkunjung ke Indnoesia, kabinet Belanda jatuh dan Van der Laan terpaksa pulang ke Belanda karena tidak menjabat menteri muda lagi, red). Medy van der Laan menilai Indonesia sangat cocok untuk dijadikan tema zandsculptuur Apeldoorn tahun ini. ‘Saya kira pemilihan tema ini tepat sekali. Indonesia adalah negara yang berbagi sejarah dengan kita,’ tegas Van der Laan.

Medy van der Laan menambahkan pameran patung pasir seperti ini mendorong masyarakat Belanda mengenal budaya asing. ‘Dan ini sangat kita perlukan dalam masyarakat multikultural kita, yang memiliki banyak kelompok migran baik yang baru datang ke Belanda, maupun yang sudah lama berada di Belanda.’

Dari Sabang sampai Merauke
Pameran patung pasir itu digelar di dalam tenda tertutup. Suasana remang dan lampu-lampu sorot memancarkan sinarnya ke patung-patung pasir beserta musik ringan yang terdengar memberi kesan tersendiri bagi para pengunjung. Banyak sekali yang bisa dilihat di pameran itu. Kekhasan budaya dari pulau-pulau besar dan kecil Indonesia seperti perangkat musik gamelan, penari dayak, rumah minang, mesjid Baiturrahman Banda Aceh yang dilanda tsunami sampai ke pakaian adat Papua. Pokoknya dari Sabang sampai ke Merauke. Dan bukan hanya Indonesia di jaman merdeka saja, tetapi malah Indonesia atau kepulauan nusantara di jaman VOC diperlihatkan juga di sana.

Terindah di dunia
Nyonya Witterland, seorang ibu lansia berdarah campur Indonesia-Eropa menyatakan Nederlands-Indië atau Hindia Belanda, sebutan Indonesia di jaman penjajahan Belanda, adalah negeri terindah di seluruh dunia. ‘Saya sangat cinta pada negeri itu. Di seluruh dunia Hindia Belanda adalah negara terindah. Orang-orangnya baik, suka senyum dan selalu sangat ramah’, katanya. Suaminya, Bapak Witterland hampir meneteskan air mata ketika ditanya kesannya melihat pameran itu. Dia merasa sedih kalau teringat dengan Indonesia. ‘Itu adalah negeri kelahiran saya,’ katanya. Namun di samping sedih dia juga senang karena ada pameran seperti ini. ‘Ini luar biasa,’ tuturnya.

Pasir dari gunung
Budi Sastrawarman, seorang warga asal Indonesia yang tinggal di Apeldoorn, berperanan cukup penting di pameran itu. Dia banyak membantu membuat gamba-gambar motif dan dekorasi lainnya. Tugas lainnya di sana juga untuk membimbing anak-anak yang berkunjung di sana. Perancang asal Padang ini mengatakan semua patung yang dipamerkan di situ penuh dengan ekspresi. ‘Jadi betul-betul kayak patung hidup, tapi dari pasir,’ jelasnya. Ia menambahkan bahwa pasir yang dijadikan patung itu bukan sembarang pasir. ‘Pasirnya ini berasal dari pegunungan, bukan dari pantai. Pasir yang kita pakai di sini bentuknya beda. Pasir ini tidak bulat. Jadi waktu dipadatkan, dia kan bersatu dan sangat kuat. Makanya kita bisa bentuk seperti patung,’ ungkap Budi.

Ibu Rusmiati, seorang warga kelahiran Magelang, merasa senang budaya Indonesia semakin dikenal di luar negeri. Dia kagum dengan kelihaian sculptor atau pembuat patung pasir menggambarkan ombak tsunami yang melanda mesjid Baiturrahman di Banda Aceh. Dan dia bingung juga melihat tehniknya. ‘Saya heran sekali padahal pasir di pantai itu gampang terpisah,’ tuturnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sumber: http://www.ranesi.nl

Link: http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/pameran-patung-pasir-tentang-indonesia

Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s