Mari Merayakan 17 Agustus Bersama Bangsa Indonesia

Tanggal 15 Agustus 1945. Dalam sekejap saya melihat mereka lagi. Kakek, sanak saudara yang saya makamkan, orang-orang yang tidak dikenal yang terpaksa saya kuburkan di kamp internir Jepang di Bogor, Indonesia. Tewas di kamp Jepang, akibat Aksi Polisionil (operasi militer Belanda, red), dan Bersiap (perjuangan kemerdekaan Indonesia, red). Kalau saya menutup mata, terbayang prosesi manusia. “Kita akan jumpa lagi”, terbenak di pikiranku kala itu.

Joty ter Kulve

Tiap perang menelan korbannya masing-masing. Orang tidak akan melupakan itu. Tapi nantinya, setidaknya inilah harapan saya, manusia akan menemukan jalan diplomasi untuk bersatu dalam perbedaan. Mungkin bukan karena kita sudah menjadi manusia lebih baik, tapi karena kita menyadari, bahwa jika kita mau bertahan hidup di planet kita yang kecil ini, kita harus menghadapi tantangan zaman kita sekarang yakni kemiskinan, perang, kekurangan air, bahan baku, banjir dan sebagainya.
Cuci otak

Belanda dan Indonesia, sekarang saya bisa mengidentifikasikan diri kepada dua negara ini.  Tapi dulu tidak selalu begitu. Lama baru berubah.  Waktu saya dibesarkan di Hindia Belanda, hati saya dekat dengan negara asal saya dan rakyatnya.  Karena waktu itu kami dicuci otak dengan identitas Belanda, budaya Belanda. Kami kala itu diajari bahwa di Belanda banyak kesempatan buat kami, masa depan gemilang. Makanya, setidaknya bagi saya, setelah 15 Agustus, tidak ada 16 Agustus, seperti orang Belanda lain yang memiliki 5 Mei setelah 4 Mei. (4 Mei adalah hari pahlawan dan 5 Mei hari pembebasan,red).

Bagi kami para migran (orang Belanda berasal dari Indonesia,red), 15 Agustus disusul oleh zaman Bersiap (zaman perang melawan Belanda,red), saat pemerintah Belanda mengirim  100.000 tentaranya ke bekas wilayah jajahannya itu untuk merebut kekuasaan kembali.

Dua hari lagi kami kembali akan merayakan 15 Agustus. Televisi dan radio akan menyiarkan dokumenter tentang perang dan lain-lain di Hindia Belanda. Sekarang rakyat bertanya: Siapa yang salah? Pemerintah tidak pernah menjawab pertanyaan ini, kenapa para pemimpin kami dulu tidak sadar bahwa kolonialisme akan berakhir di seluruh dunia. Tidak ada yang menyukai perubahan, tapi tiap generasi pasti memerlukan pemimpin yang bisa mengantisipasi perubahan yang akan mendatangi bangsanya.

Masyarakat global
Generasi saya hampir semuanya sudah meninggal dunia. Generasi berikutnya, setelah tiba dari Indonesia, terpaksa ikut membantu pembangunan Belanda dan agak lupa bahwa kami pernah memiliki wilayah jajahan. Tapi generasi anak dan cucu saya kini hidup di dunia yang sangat cepat berubahnya.  Mungkin mereka berani dan bisa menyadari pentingnya membangun masyarakat global.  Mereka,cucu-cucu saya, bisa memaknai 17 Agustus . Menemukan bahwa Indonesia bangkit di atas debu nenek moyang kami. Menemukan suatu bangsa yang bangga dan berani berusaha membangun masa depan Indonesia. Membangun bangsa damai, bebas dari penderitaan masa lalu, melaksanakan apa yang diwariskan oleh nenek moyang mereka yakni Pancasila ,yang mengajari mereka jalan menuju diplomasi, menuju demokrasi.

Mari kita semua di Belanda ikut bergembira dan bersama bangsa Indonesia memperingati 17 Agustus.

Joty ter Kulve (82 tahun) lahir di Semarang. Gedung tempat perjanjian Linggarjati diselenggarakan dulu adalah rumah orang tuanya.

Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s