“The Passion”, Musical Paskah Spektakuler di Belanda

Bari Muchtar

Kota Rotterdam disulap menjadi panggung tempat meriwayatkan kembali kejadian sekitar 2000 tahun lalu. Kota nomor dua di Belanda ini menjadi tuan rumah musical The Passion. Musical ini menceritakan saat-saat terakhir kehidupan Yesus Kristus. Apakah ini berarti warga Belanda religius?

Mungkin orang menduga kota Rotterdam disulap menjadi kota kuno di zaman lahirnya Yesus. Tidak. Justru ini adalah cerita jaman baheula tapi ditampilkan di kota moderen tahun 2012. Misalnya salibnya terbuat dari lampu neon. Yang menangkap Yesus berpakaian seragam polisi Belanda. Terus kendaraannya bukan onta tapi tram.

Para artis yang tampil terdiri para selebriti Belanda, yang kebanyakan sudah tidak beragama lagi. “Saya tidak beragama, tapi saya percaya sesuatu, ” kata Danny de Munck yang berperan sebagai Yesus. Yang ikut prosesi membawa salib tidak semuanya kristiani. Sepertinya yang ditonjolkan adalah aspek seninya ketimbang segi religiusnya.

Maka wajar kalau penontonnya cukup banyak. Sekitar 1,7 juta pemirsa menonton musical panggung terbuka yang dipusatkan di Willemsplein, Rotterdam ini. Menurut polling, acara yang disiarkan oleh dua organisasi penyiaran kristiani RKK dan EO itu merupakan program televisi yang paling banyak ditonton malam itu. The passion ditayang pada Kamis Putih.

Tak pelak lagi organisasi penyiaran yang disebutkan di atas tadi bangga. Direktur EO Arjan Lock menulis pesannya di twitter: “Adalah istimewa kalau banyak sekali orang menonton riwayat terpenting di dunia itu.” Cerita kematian Yesus disebutnya sebagai riwayat terpenting di dunia.

Namun banyak umat kristiani Belanda mengkritik. Menurut mereka tayangan ini tidak ada makna kristiani. Malah ada yang menganggapnya “pelecehan”.

Antara lain dari kalangan Katolik mengkritik The Passion dari segi isi dan bentuknya. Seorang warga Katolik Eric van den Berg menulis di situs Katholiek.nl, bahwa riwayat Yesus yang ditampilkan di the Passion itu tidak mengandung spiritualitas sama sekali.  Menurut dia, riwayat passi ini dijadikan ” sebuah festival lagu-lagu cengeng tanpa kaitan sama sekali dengan makna yang mendalam dari riwayat itu.”

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s