UUPA Rugikan WNI Yang Menikah dengan Orang Asing

Bari Muchtar

Warga Negara Indonesia (WNI) yang menikah dengan Warga Negara Asing (WNA), bisa kehilangan haknya terhadap misalnya tanah di Indonesia. Demikian kesimpulan yang disampaikan Enggi Holt, WNI yang juga pakar hukum yang bermukim di Inggris kepada Radio Nederland.

Enggi Holt pernah menjabat ketua Keluarga Perkawinan Campuran Melalui Tangan Ibu ( KPC MELATI). Setelah tinggal di Inggris, karena ikut suami, ia tetap menjadi pegiat membela nasib WNI yang nikah campur. Nikah campur di sini maksudnya adalah nikah dengan warga asing.

Ayat 21 fasal 3 UUPA

Orang asing yang sesudah berlakunya undang-undang ini memperoleh hak milik karena pewarisan tanpa wasiat atau percampuran harta karena perkawinan, demikian pula warganegara Indonesia yang mempunyai hak milik dan setelah berlakunya undang-undang ini kehilangan kewarganegaraannya wajib melepaskan hak itu di dalam jangka waktu satu tahun sejak diperolehnya hak tersebut atau hilangnya kewarganegaraan itu.

Jika sesudah jangka waktu tersebut lampau hak milik itu tidak dilepaskan, maka hak tersebut hapus karena hukum dan tanahnya jatuh pada Negara, dengan ketentuan bahwa hak-hak pihak lain yang membebaninya tetap berlangsung.

Yang menjadi kendala, menurut Enggi, adalah fasal 21 ayat 3 Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) yang disahkan tahun 1960. Di sana disebut istilah “percampuran harta karena perkawinan”.

Karena adanya percampuran harta, maka WNI yang menikah dengan WNA tanpa perjanjian perkawinan, bisa kehilangan hak milik (eigendomsrecht).

Burgelijk Wetboek
“Masalahnya, dalam prakteknya perjanjian kawin itu masih mengikuti definisi perkawinan lama yang diambil dari Burgerlijk Wetboek. Di situ disebut, begitu menikah si suami mempunyai kekuasaan yang sangat besar bagi istri dan terjadi percampuran harta yang bulat,” jelas Enggi.

Menurut ayat 3 di atas, orang asing harus melepas hak tersebut dalam waktu satu tahun. Kalau tidak haknya diambil alih oleh Negara. Kalau ini terjadi, maka berarti si WNI juga kehilangan hak miliknya.

Yang dimaksud di sini adalah hak milik terhadap harta yang diperoleh setelah kawin tanpa perjanjian perkawinan.

Ajang diskusi Facebook
Inilah motif Enggi Holt untuk membuka ajang diskusi tentang UUPA di Facebook. Ia menjelaskan, suara-suara di ajang diskusi itu sudah mengarah kepada tuntutan untuk merevisi UUPA, yang pada prinsipnya bagus.

“Sebenarnya pada asasnya sudah bagus, karena UU ini meletakkan kekuasaan tertinggi pada bangsa Indonesia,” katanya.

Namun ia menambahkan fasal 21 ayat 3 itu tidak mencerminkan prinsip tersebut. Malah dinilainya diskriminatif, terutama kalau diterapkan secara “letterlijk”.

Makanya, Enggi menyimpulkan, UUPA itu harus direvisi terutama fasal 21 ayat 3 tadi. “Kata-kata percampuran harta itu kalau bisa dihilangkan,” katanya.

Kepentingan asing
Sebaliknya semakin lantang suara yang menolak revisi UUPA. Mereka malah menuduh orang yang mau mengamandemen UUPA ditunggangi kepentingan asing.

“Keinginan sejumlah anggota DPR yang ingin mengganti UUPA sebenarnya sudah sangat lama. Bahkan sejak tahun 1980, banyak kalangan yang menganut paham ekonomi kapitalis liberal sudah berusaha mengusulkan agar UUPA diganti,” ujar Ketua DPN Repdem Bidang Penggalangan Tani Sidik Suhada, kepada Matanews.com.

Enggi mengerti kekhawatiran ini, tapi ia berpendapat di zaman sekarang orang tidak perlu lagi takut akan ditunggangi kepentingan asing.

Enggi menambahkan, keinginan merevisi UUPA ini justru demi membela kepentingan warga negara Indonesia.

Harkat dan martabat
“Ini justru untuk mengembalikan harkat dan martabat warga negara Indonesia. Kita tidak boleh melihat bahwa ini adalah untuk penguasaan asing dan sebagainya. Kita kedudukannya sama kok antara suami dan istri.”

Ada juga yang khawatir revisi UUPA bisa menguntungkan pihak pemilik modal atau cendrung ke kapitalisme. Namun Enggi berpendapat kapitalisme bagus kalau disesuaikan dengan kondisi Indonesia dan dikendalikan.

Karena hidup di era globalisasi dan belum mandiri sepenuhnya, bangsa Indonesia memerlukan orang asing terutama yang punya modal, simpul Enggi Holt.

Sumber: RNW

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s