PCI NU Belanda Sambut HUT RI ke 72 dan Harlahnya

PCINU Belanda menyelenggarakan rangkaian kegiatan menyambut HUT Republik Indonesia 72 dan Harlah NU Belanda yang ke- 3. Menurut Wakil Rois Syuriah, Fachrizal Afandi, rangkaian kegiatan  ini mengambil tema besar tentang “Refleksi Peran PCI NU dalam tranformasi nilai keagamaan dan kebangsaan untuk masyarakat Eropa.

Rangkaian kegiatan dibuka dengan penyelenggaraan Seminar Internasional tentang  Halal Certification: Promoting Sustainability and Fairness in Halal Concept” di Wageningen University & Research, pada  23 Agustus 2017. Seminar yang digawangi oleh LPLH (Lembaga Pertanian dan Lingkungan Hiduo) PCINU Belanda bekerjasama dengan PPI Wageningen ini dihadiri oleh para akademisi dan praktisi halal di Eropa.

Bertempat di Universitas Leiden Belanda pada 24 Agustus 2017, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi LESBUMI PCINU Belanda tentang Deradikalisasi Agama dan Budaya Populer di Indonesia disertai dengan pemutaran film karya sineas muda NU, Nurman Hakim, 3 doa 3 cinta.

Zikir kebangsaan
Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan Dzikir Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Aswaja Center Belanda dan dipusatkan di Masjid Al Hikmah Den Haag pada tanggal 26 Agustus 2017. Dzikir kebangsaan ini akan diikuti oleh diaspora Indonesai di Belanda dan dipimpin langsung oleh jajaran Syuriah PBNU, Prof. Dr. KH Ma’ruf Amin (Rois Aam), KH Miftahul Akhyar (Wakil Rois Aam) dan KH. Zulfa Mustofa (Katib Syuriah).

Di usianya yang masih belia, PCI NU Belanda terbukti aktif dalam menyelenggarakan berbagai macam kegiatan selain untuk mempromosikan Islam yang ramah ala nusantara juga dalam rangka mengemban misi kebangsaan. Setidaknya ini yang ditangkap oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja pada saat menjamu rombongan PBNU beserta masyarakat Indonesia di Belanda di aula KBRI. Dubes juga mengapresiasi kesuksesan penyelenggaraan Konferensi Islam Nusantara bulan Maret lalu dan juga Seminar Internasional Halalan Thoyyiban di Universitas Wageningen. Hal yang menurutnya turut membantu meringankan tugas KBRI dalam rangka mempromosikan Indonesia sebagai negara beragam yang ramah dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia

Ma’ruf Amin

DR KH Ma’ruf Amin

Dalam kesempatan yang sama, Rois Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menyatakan bahwa para ulama para pendiri bangsa telah bersepakat bahwa Indonesia adalah Darul Ahdi bukan Darul Shulhi, apalagi Darul Harbi. Oleh karenanya sebagai warga bangsa, semua warga negara telah terikat oleh hubungan interdepedensi (muahhadah) dengan sesamanya.

Menurut beliau, PCINU Belanda sebagai salah satu duta NU memiliki dua tanggung jawab besar yaitu Mas’uliyyah diniyyah dan  Mas’uliyah wathaniyyah. Oleh karenanya karakter dakwah NU haruslah berdasarkan kesantunan (layyinah), kesukarelaan (Tathawwu’), tidak memaksa (la ikrahian wa la ijbaran)  toleran (Tasamuhian)  serta tidak memihak/partisan (la ananiyan wa la ashabiyan)

Rahmatan lil aalamin
Sebagai penutup, Rois Aam memberikan amanat pada jajaran PCI NU Belanda agar dalam menjalankan perannya selalu berpedoman pada ukhuwah islamiyah, wathaniyah dan insaniyah agar ajaran Islam yang rahmatan lil aalamin dapat ditransformasikan dengan baik di kalangan masyarakat Eropa.

Iklan
Dipublikasi di Berita | Tag , , | Meninggalkan komentar

Perayaan Ultah ke 50 ASEAN di Den Haag

Tanggal 8 Agustus lalu di selenggarakan peringatan hari ulang tahun ke 50  ASEAN di gedung Kedutaan Besar Malaysia di Den Haag, Belanda. Acara yang bernama ASEAN 50 Ceremony yang  berlangsung dari pukul 10.00 hingga 13.00 dibuka dengan penaikan bendera dengan diiringi lagu Mars ASEAN atau ASEAN Anthem (ASEAN Way).

Upacara dihadiri oleh kelima Duta Besar negara anggota ASEAN yang memiliki perwakilan di Den Haag, Belanda, yaitu Duta Besar Filipina, Jamie Victor B. Ledda, Duta Besar Indonesia, I Gusti Agung Wesaka Puja of Indonesia, Duta Besar Viet Na, Ngo Thi Hoa, Duta Besar Thailand Pornprachai Ganjanarint dan Duta Besar Malaysia, Ahmad Nazri Yusof, sebagai tuan rumah.

Walikota Den Haag
Perayaan ini juga dihadiri oleh Walikota De Haag, Pauline Krikke, dan Direktur Asia dan Oseania Kementerian Luar Negeri Belanda, Peter Portman. Para diplomat dari pewakilan negara-negara ASEAN di Den Haag pun turut hadir beserta beberapa undangan dan media massa lokal.

Dalam kata sambutannya, Duta Besar Malaysia, Ahmad Nazri Yusof, menekankan pada ASEAN Comunnity Vision 2015, dimana ASEAN sebagai komunitas yang berorientasi dan berpusat kepada keragaman masyarakatnya sebagai aset yang sangat penting. ASEAN sekarang telah berkembang menjadi keluarga besar 10 negara anggora dengan keragaman identitas, budaya dan agama serta bekerjasama menciptakan keamanan dan kesejahterahan bersama.

Logo ALC
Pada kesempatan ini, ASEAN Ladies Circle (ALC) yang saat ini diketuai oleh isteri Duta Besar Malaysia untuk Kerajaan Belanda, Amilatun Fazlina Zakaria, meluncurkan logo resmi ALC Den Haag. Ibu Amilatun Fazlina Zakaria menjelaskan bahwa logo ALC mengekspresikan keharmonisan, persahabatan dan solidaritas. “Kami memilih warna merah, biru dan kuning untuk mewakili negara-negara ASEAN di Den Haag.” Bunga Tulip yang tertera di sana, menurut Amilatun melambangkan persahabatan yang didasari oleh saling mengerti dan memahami.

Acara dilanjutkan dengan penampilan beberapa pertunjukan budaya dari masing-masing negara ASEAN yang hadir. Seorang penyanyi berparas cantik dengan suara yang indah dari perwakilan Kedubes Malaysia dengan menggunakan pakaian cantik benuansa coklat yang tertutup rapih dan sopan menyanyikan dua lagu tradisional Malaysia yang berjudul Zapin Budi dan Joget Pahang.

Meski hujan turun, acara tetap dilanjutkan dengan agenda penampilan paduan suara dari Kedubes Filipina. Dalam kesempatan ini Duta Besar Filipina untuk Kerajaan Belanda ikut bernyanyi. Tidak hanya itu, Negara Vietnam pun juga menampilkan sepasang penyanyi yang mengumandangkan lagu daerah mereka.

Tarian Manuk Rawa
Selanjutnya dua remaja putri dari Sekolah Indonesia di Wassenar sebagai perwakilan Indonesia menampilkan tarian Manuk Rawa yang berasal dari Bali. Diiringi dengan musik mereka mempertontonkan kemolekan, keelokan dan keharmonisan gerak tubuh sebagai penari terlatih. Tarian ini cukup menarik perhatian para tamu undangan.  Acara ASEAN 50 Ceremony ini ditutup oleh empat orang remaja perempuan dari Thailand yang menyanyikan dua lagu tentang cinta yang terkenal dan musik yang berasal dari negara mereka.

Sebagai penutup acara, para peserta dan Duta Besar disuguhkan makanan khas tradisional dari setiap Negara seperti chicken biryani dan dalca daging dari Malaysia; misro, tahu isi dan acar dari Indonesia; deep fried marinate beef, crispy rice cake dan chicken with garlic and pepper dari Thailand; shrimp dan vegetarian springrolls dari Vietnam; serta buco pandan dari Filipina. Selain itu tersedia juga aneka kue-kue khas dari Malaysia yaitu kuih lapis, kuih seri muka dan pulut inti manis. Dan durian musang king menjadi hidangan penutup yang sangat digemari oleh seluruh yang hadir.

Dipublikasi di Berita | Tag , | Meninggalkan komentar

Serah Terima Lukisan Sultan Hamid II di KBRI Den Haag

Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, telah menyaksikan acara serah terima lukisan Sultan Hamid II di Aula Nusantara, KBRI Den Haag, pada tanggal 4 Agustus 2017.

Rosemarie Donkersloot, seorang warga Belanda yang lahir di Indonesia, menyerahkan lukisan Sultan Hamid II ini kepada satu-satunya putra Sultan Hamid II, Syarif Max Yusuf Alkadrie. Donkersloot mewariskan lukisan tersebut dari ibunya. Ibu Donkersloot merupakan teman studi Sultan Hamid II dan mendapatkan lukisan tadi dari pelukis Peter Odijk dari Delf, yang melukis Sultan Hamid II sewaktu melakukan studinya di Royal Military School di Breda, Belanda. Ia sudah menyimpan lukisan tersebut sejak tahun 1900.

Sultan Hamid II adalah Sultan Pontianak VIII yang memerintah Kalimantan Barat pada tahun 1946 hingga 1950. Saat menghadiri Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Sultan Hamid membawa isteri dan anaknya, Max Alkadrie ke Belanda. Setelah itu, isteri dan Max Alkadrie menetap di Belanda dan menjadi warga negara Belanda. Banyak generasi muda sekarang yang tidak mengetahui bahwa Sultan Hamid II merupakan salah satu perancang lambang negara, Garuda Pancasila.

Pada kata sambutannya saat menerima lukisan Sultan Hamid II, Max Alkadrie menggambarkan betapa ayahnya adalah orang yang sangat mencintai Indonesia. Max juga menyampaikan akan memberikan tempat yang terhormat bagi lukisan diri Sultan Hamid II yang tidak hanya dinikmati oleh keluarga Sultan Hamid II saja namun juga khalayak umum, khususnya seluruh warga negara Indonesia.

Selain penyerahan lukisan Sultan Hamid II, pada acara serah terima itu Rosmarie Donkersloot juga menghadiahkan sebuah lukisan Pemandangan Tangkuban Perahu yang bergaya mooi Indie kepada Duta Besar Puja. Lukisan yang berumur 120 tahun dimaksud merupakan kenangan ibunda Donkersloot akan kampung halaman di Bandung tempat ia pernah tinggal dan menetap.

Pada sambutannya di acara serah terima ini, Duta Besar Puja mengucapkan terima kasih untuk penghibahan lukisan Sultan Hamid II kepada ahli warisnya dan lukisan Pemandangan Tangkuban Perahu kepada KBRI Den Haag. Duta Besar Puja menilai gestur baik dari Donkersloot sebagai upaya yang positif dalam meningkatkan people to people contact antara komunitas Indonesia dan Belanda, serta Diaspora Indonesia di Belanda.

Acara serah terima ini dimulai pukul 17:00 dan dihadiri sekitar 75 tamu undangan yang terdiri dari keluarga besar Sultan Hamid II, keluarga besar Rosemarie Donkersloot, media lokal dan media nasional, PPI Belanda serta tamu undangan. Sebagai penutup acara, dihidangkan makan malam sajian khas Indonesia untuk para tamu. Acara itu juga merupakan kesempatan beramah tamah dan bersilahturahmi.

Dipublikasi di Berita | Tag , , | Meninggalkan komentar

Pendapat Pakar Belanda Tentang Perusuh G20 di Jerman

Kerusuhan di G20 di Jerman
©youtube.com

Pakar Belanda mengomentari kerusuhan di Hamburg, Jerman, tempat digelar G20. Sabtu malam kemarin kelompok ekstrem kiri radikal membakar mobil, merusak banyak toko dan melemparkan

Menurut Jacco Pekelder, pakar terorisme di Universitas Utrecht, Belanda, dalang kerusuhan ini adalah Black Block. “Mereka berpakaian hitam-hitam dan terorganisir dengan baik, “ katanya. Menurut ilmuwan ini, tanpa kelompok inti ini, kita tidak akan menyaksikan ajang kekerasan seperti yang bisa kita saksikan sekarang.

Jacco Pekelder menambahkan, bahwa Black Block terdiri dari berbagai kelompok, yang pada saat-saat tertentu bekerjasama.

Menurut pakar Belanda lain, psikolog sosial Arjen de Wolf, yang menyatukan kelompok-kelompok ini adalah sentimen anti globalisasi dan kapitalisme.

Menurut Jacco Pekelder di antara mereka sebenarnya ada juga yang tidak suka dengan tindak kekerasan, tapi mereka terbawa-bawa oleh kelompok inti. “Ada anggota yang makin kuat ideologinya dan terjadilah pergeseran peranan di dalam organisasi. Setelah itu muncul semacam tahap peralihan di mana orang menjadi radikal dan ujungnya adalah tindak kekerasan.”

Kekerasan itu, menurut Jacco, juga disulut oleh tindakan polisi yang juga cukup keras.

Arjen de Wolf menyamakan kelompok ekstrem kiri ini dengan organisasi teror seperti ISIS. Mereka sama-sama ingin menambah anggota dan simpatisan. “G20 ini merupakan ajang yang tepat untuk itu,” kata Arjen de Wolf.

Namun Pekelder berpendapat, tindak kekerasan ini justru membuat orang makin tidak simpati dengan perjuangan mereka.

 

Dipublikasi di Berita | Tag , , | Meninggalkan komentar

Penerbitan “Al Quran untuk Anak-Anak” di Belanda

Abdulwahid Van Bommel
©youtube.com

Yayasan yang dikelolah muslim asal Turki ISN akan menggelar presentasi “de Koran: uitleg voor Kinderen” atau “Al Quran: penjelasan untuk anak-anak” Ahad 9 Juli 2017.  Abdulwahid Van Bommel, penulis yang berlatar belakang pedagogi ini menilai buku-buku pelajaran tentang Islam yang ada kaku, penuh dengan perintah dan larangan dan tidak memberi kesempatan kepada anak-anak untuk bertanya dan bertanya-tanya.

Sementara buku yang ditulisnya bersifat interaktif. Penjelasan-penjelasan di dalam buku ini diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan kepada pembaca tentang apa yang mereka baca. “Mereka bisa membicarakan hal itu dengan orang tua atau guru,” katanya kepada penyiaran publik Belanda NOS.

Abdulwahid mengatakan buku ini juga cocok untuk orang dewasa.

Mantan rohaniwan rumah sakit dan penjara Belanda ini juga menuturkan, sebenarnya di negara-negara Islam sangat banyak tafsir Al Quran. Ulama Belanda yang pernah menjadi direktur penyiaran Islam Nederlandse Moslim Omroep (NMO) ini menambahkan pula bahwa 450 masjid di Belanda menggunakan tafsir mainstream.

“Kiai” Belanda ini sadar ia akan banyak dikritik, terutama dari negara-negara Islam. Ia menduga, kritikan itu akan berkenaan dengan gambar-gambar yang dimuat di dalam buku ini. “Menggunakan gambar untuk hal-hal dari Al Quran sangat sensitif di negara-negara seperti Arab Saudi, Afganistan dan Indonesia,” kata ustadz Belanda yang beristrikan perempuan Maluku ini.

Buku ini merupakan salah satu dari sekian banyak karya tulis ulama Belanda yang banyak belajar Islam di Turki ini. Salah satu buku pertamanya adalah “Kom tot het gebed” atau “Mari bersembahyang”.  Dan sebelum menyelesaikan “Al Quran untuk anak-anak” ini ia berhasil menerjemahkan Masnawi yang terdiri dari 6 jilid, karya agung sufi Jalaluddin Rumi ke dalam Bahasa Belanda.

Presentasi buku akan digelar di Ulu Moskee, masjid yang dikelolah umat Islam asal Turki di kota Utrecht, Belanda Tengah.

Dipublikasi di Berita | Tag , | Meninggalkan komentar

Polisi Belanda Membantu Membongkar Jaringan Pornografi Anak di Jerman

Pameran Sally Mann, porno atau seni?
©Gerard Stolk

Polisi Belanda berhasil membantu Jerman membongkar jaringan besar pornografi anak yang anggotanya mungkin 87000 orang. Kamis (5/7) diumumkan bahwa pengelola jaringan, seorang pria Jerman berusia 39 tahun,  berhasil ditangkap.

Jaringan ini berada di apa yang disebut dark web. Di dark web ini para pengguna bisa berkomunikasi antara satu sama lain secara anonim. Berkat software yang dikembangkan oleh polisi Belanda ini, polisi Jerman bisa membongkar besarnya jaringan dan hubungan antara anggota jaringan.

Jumlah anggota bisa melebihi 87000 orang. Menurut jurubicara polisi, anggota juga bisa mempunyai bermacam akun. “Banyak yang aktif mengunakan seratus akun.”

Yang banyak tersangka terutama tersangka dari Jerman dan Australia.  Kegiatan anggota jaringan adalah menyebarkan pornografi anak dan juga membuat janji untuk pelecehan seksual anak-anak. Sampai sekarang belum ada orang Belanda yang tersangka, tapi menurut jubir, “sangat besar kemungkinan” ada orang Belanda terlibat.

Menurut polisi melacak dan menguntit pengguna dark web sangat susah. Para penyebar pornografi anak makin pintar menyembunyikan identitasnya dan bertambah sering menggunakan perangkat lunak enkripsi.

Dipublikasi di Berita | Tag , | Meninggalkan komentar

PCI NU Belanda Diskusikan Soal Politik Uang dan Identitas di Indonesia

Bertempat di Fakultas Hukum, Universitas Leiden, Belanda, (4/7) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama di Belanda (Lakpesdam PCI NU Belanda) menyelenggarakan diskusi dengan tema Money and Identity Politics on Electoral Democracy in Indonesia.

Menurut Koordinator Penyelenggara Yance Arizona, diskusi publik ini diselenggarakan dalam rangka melakukan telaah akademik terkait fenomena penyelenggaraan Pemilu di Indonesia saat ini yang menunjukkan semakin masifnya politik uang dan penggunaan identitas sebagai alat untuk memenangkan pemilihan.

Diskusi ini dihadiri oleh perwakilan mahasiswa dan akademisi pemerhati Indonesia di Belanda dan juga ditayangkan secara live di facebook page PCI NU Belanda. Dengan dimoderatori oleh Fachrizal Afandi, hadir sebagai narasumber antara lain; Fritz Edward Siregar, PhD (Komisioner Bawaslu bidang Hukum), Prof. Gerry van Klinken (Professor of Southeast Asian History at University of Amsterdam) Ward Berenschot, PhD (peneliti di KITLV), serta Awaludin Marwan, SH, MH, MA (Lakspesdam PCINU Belanda,  PhD candidate Univeristas Utrecht).

Problem Regulasi
Dalam paparannya, Fritz yang baru saja menjabat sebagai komisioner Bawaslu menyampaikan bahwa masih banyak problem regulasi dalam menangani permasalahan politik uang. Misalkan adanya unsur ‘mempengaruhi pemilih’ dalam pemberian uang atau barang kepada pemilih oleh tim sukses kandidat dalam pemilu dan pilkada. Unsur ini cukup sulit dibuktikan sehingga menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda di dalam praktiknya antara Bawaslu, Kepolisian dan Kejaksaan. Selain itu, waktu penanganan yang singkat juga menjadi kendala untuk mengatasi hal ini.

Persoalan lain yang juga butuh perhatian adalah praktik menjual barang (Sembako) dengan harga murah. Model bazar murah ini sudah banyak terjadi, termasuk dalam Pilkada DKI Jakarta yang lalu. Belum tegas aturan yang dapat mengkualifikasikan bazar sebagai politik uang, misalkan dengan diskon berapa persen dari harga pasar dapat dikualifikasikan sebagai pelanggaran. Apakah menjual dengan harga 70%, 50% atau 30% dapat dikategorikan sebagai politik uang?

Politik identitas
Dalam kaitannya dengan politik identitas, Bawaslu telah melakukan penelitian di enam provinsi dan menemukan bahwa politik identitas mempengaruhi hasil pemilihan kepala daerah. Politik identitas menekankan perbedaan sebagai preferensi untuk memilih pemimpin. Secara faktual, politik yang menekankan identitas bagi sebagian kalangan dipandang wajar karena karakteristik masyarakat Indonesia yang plural berdasarkan agama, suku, dan berbagai latarbelakang lainnya. Namun ia jadi masalah ketika menjurus kepada tindakan diskriminasi kepada sebagian kelompok tertentu. Bawaslu belum punya peraturan yang detail untuk menentukan kapan dan dimana suatu tindakan dapat dikualifikasikan pelanggaran karena menggunakan identitas untuk mempengaruhi pemilih.

Patron-client
Prof. Gerry van Klinken menjelaskan salah satu akar dari politik identitas yang menguat hari ini dengan istilah Ethnic Bossism, yaitu semacam relasi patron-client yang telah berkembang dalam sejarah masyarakat Indonesia. Dia menyampaikan berbagai peta yang menunjukan perbedaan kolonisasi dan pewargenagaraan paska kolonial antara Jawa-Sumatra dan daerah lain di Indonesia. Penjelasan ini berguna untuk memahami mengapa politik identitas sangat kental di luar jawa dan sedikit di Jawa, dengan beberapa pengecualian. Termasuk pula peta kekerasan komunal berbasis etnik yang terjadi pada tahun 1999-2002 yang terjadi di Sulawesi dan Kalimantan. Kerjasama antara penguasa kolonial dengan sultan dan raja-raja sejak masa kolonial menyuburkan Ethnic Bossism yang sekarang semakin meluas paska Orce Baru. Misalkan dengan mekanisme yang memberikan keistimewaan bagi putra asli daerah untuk posisi-posisi di pemerintahan daerah dan proyek pembangunan di daerah.

Lebih lanjut, Gerry menyampaikan bahwa Ethnic Bossism berbahaya bagi kelangsungan demokrasi. Lawan dari Ethnic Bossism adalah democratic accountability yang menekankan inklusivitas dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Ada dua pendekatan yang perlu dipertimbangkan kedepan untuk mengatasi situasi keterjebakan pada sistem oligarkis patron-client ini yaitu suatu pemerintahan pusat yang kuat dan demokratis sehingga bisa memberdayakan warga negara. Pendekatan lain adalah membangun aliansi lintas daerah dari gerakan partisipasi warga dan pemimpin yang baik, terutama antara kelompok urban di Jawa dengan rural di luar Jawa.

Ward Berenschot menyampaikan presentasi dengan judul Why is Money Politics so Pervasive in Indonesia: An economy analysis. Dia memaparkan hasil risetnya di 38 daerah dengan wawancara terhadap ahli di daerah untuk menyusun Indek Persepsi Klientisme (Clientism Perception Index). Studi ini penting untuk melihat bagaimana relasi patron-client antara masyarakat dan tuannya baik berdasarkan identitas suku dan identitas lainnya juga mempengaruhi politik uang. Studi itu menemukan bahwa semakin ke daerah, maka politik uang semakin massif. Semakin ke nasional, misalkan dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, kecenderungan politik uang semakin berkurang.

Perbedaan Jawa dan luar Jawa
Dalam kaitannya dengan politik identitas, studi yang dilakukan oleh Ward melengkapi apa yang telah dilakukan oleh Gerry van Klinken, terutama untuk melihat perbedaan antara Jawa dan luar Jawa. Hal lain yang menarik dari studi ini menunjukan bahwa praktik politik identitas cenderung menguat di Ibukota Provinsi di luar Jawa, terutama di Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Hal lain yang menarik dari survey ini menunjukan bahwa praktik politik identitas cenderung menguat di Ibukota Provinsi di luar Jawa, terutama di Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Ekonomi dalam kota-kota ini cenderung sangat tergantung kepada uang dari negara, karena tidak banyak ditemukan industri di sana.

Ward menganjurkan perlunya mengutamakan politik berdasarkan program dari pada politik berdasarkan relasi klientisme dalam pemilu. Lebih lanjut, Ward mengusulkan perlu adanya waktu khusus bagi Bawaslu sebelum hari pemungutan suara untuk melaporkan kepada publik mengenai pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh kandidat dalam pemilu sehingga menjadi preferensi bagi pemilih dalam menentukan pilihannya. Di satu sisi memang dibutuhkan perubahan peraturan mengatasi politik uang dan politik identitas, namun menurut Ward juga diperlukan perubahan dalam praktiknya. Misalkan dengan memberikan perlindungan yang cukup bagi pelapor pelanggaran dan anggota Bawaslu yang menangani pelanggaran pemilu. Sering pelanggaran tidak bisa diatasi karena aktor-aktor lapangan khawatir akan keselamatan dan statusnya di daerah.

Hukum diskriminatif
Awaludin Marwan menyampaikan beberapa warisan hukum yang diskriminatif yang pernah berlaku di Indonesia. Umumnya yang menjadi korban dari diskriminasi struktural itu adalah etnis Tionghoa. Dalam kaitannya dengan itu, Awaludin melihat bahwa apa yang terjadi dengan Basuki Tjahaja Purnama (AHOK) yang dijerat pidana penodaan agama adalah kelanjutan dari proses diskriminasi yang telah berlangsung lama. Besarnya demonstrasi yang menghendaki agar Ahok dihukum meskipun tidak langsung, tetapi sangat mempengaruhi posisi Ahok dalam pilkada. Lebih lanjut, Awaludin menilai bahwa peraturan perundang-undangan mengenai kepemiluan saat ini belum dapat mengatasi politik SARA yang diskriminatif. Sehingga, pembaruan hukum kedepan harus diarahkan kepada hal tersebut. Salah satunya dengan mengadopsi prinsip-prinsip penting dalam UU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnik ke dalam sistem hukum pemilu.

Dipublikasi di Berita | Tag , , | Meninggalkan komentar