Promosi Islam Nusantara di Eropa Gaya Ki Ageng Ganjur

Wind of Change. Lagu yang dipopulerkan kelompok Scorpions itu berkumandang di Ruang Nusantara Kedutaan Besar Republik Indonesia, Den Haag, Kamis malam, 5 April 2018. Tembang rock ballad milik band kondang asal Jerman itu terdengar unik, karena di sana-sini terselip suara gamelan dan alat musik tradisional lainnya, seperti rebana dan seruling. Seorang perempuan berjilbab, yang menyanyikan tembang itu dengan cengkok Jawa, menambah keunikan persembahan “lagu tema tak resmi” runtuhnya Tembok Berlin akhir musim panas 1989 tersebut.

Popularitas Wind of Change dengan sendirinya menarik hadirin, yang memadati Ruang Nusantara, untuk turut bernyanyi. “Take me to the magic of the moment on a glory night …” Lirik pada bagian refrain ini seolah menggambarkan harapan mereka memasuki momen penuh kejutan, yang dihadirkan sejumlah musisi penampil malam itu, Ki Ageng Ganjur. Nyatanya, kelompok musik akulturatif religius asal Yogyakarta itu memang mampu mengajak pemirsanya menikmati suasana menyenangkan, lewat lagu-lagu yang dimainkan hampir dua jam penuh.

Penampilan Ki Ageng Ganjur malam itu merupakan pertunjukan terakhir rangkaian tur Islam Nusantara Roadshow to Europe, yang digelar pada 30 Maret – 5 April 2018. Sebelum pentas di KBRI Den Haag, kelompok ini telah sukses main di KBRI Brussels di Belgia, Universitas Amsterdam (UvA), Mesjid Al-Hikmah Den Haag dan Konsulat Jenderal RI di Hamburg, Jerman.

Tur Eropa Ki Ageng Ganjur terselenggara atas kerjasama antara Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Belanda, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda, PPI Amsterdam, Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME), Masjid Al-Hikmah PS Indonesia Den Haag, Komunitas pengajian Tombo Ati dan didukung oleh KBRI Den Haag.

“Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka merealisasikan Piagam Den Haag yang ditandatangani pada Maret 2017,” kata Nur Hasyim Subadi, Rois Syuriah PCI NU Belanda. “Salah satu butir Piagam Den Haag adalah mempromosikan Islam Nusantara di Eropa. Dengan ini kami berharap bahwa Ki Ageng Ganjur akan mampu menunjukkan budaya Islam Indonesia, yang berbeda dengan budaya Islam yang dominan di media Eropa,” ia menambahkan.

Pergelaran di KBRI Den Haag, yang berlangsung pada pukul 18.00 hingga 22.00, dihadiri sekitar 200 orang. Mereka terdiri atas masyarakat umum Belanda, masyarakat Indonesia di Belanda, mitra kerja KBRI Den Haag, pelajar dan mahasiswa Indonesia di Belanda, serta sejumlah mahasiswa Belanda yang punya ketertarikan terhadap Indonesia.

Pertunjukan musik Ki Ageng Ganjur dibuka secara resmi dengan sambutan Ketua PCNI NU Belanda, Ibnu Fikri, dilanjutkan dengan sambutan Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja. Dalam sambutannya, Duta Besar Puja mengapresiasi kehadiran para pengunjung untuk menikmati musik Ki Ageng Ganjur. Selain itu, Duta Besar Puja juga memuji penampilan sukses Ki Ageng Ganjur sebelumnya.

“Pertunjukan malam ini merupakan pertunjukan yang langka, sebab musik yang ditampilkan oleh Ki Ageng Ganjur merupakan kolaborasi gamelan dengan alat musik modern. Luar biasa, seperti mengaduk minyak dengan air,” kata Duta Besar Puja. “Inilah keberhasilan Ki Ageng Ganjur menciptakan paduan musik menjadi karya seni yang gemilang,” ia menambahkan.

Al-Zastrouw Ngatawi, pemimpin kelompok Ki Ageng Ganjur, mengatakan bahwa musik yang mereka ciptakan merupakan sarana dakwah Islam. “Selain itu, lewat musik, para musisi melakukan dialog lintas iman dan lintas agama guna merawat keberagaman, toleransi dan moderasi sebagai nilai-nilai Islam Nusantara,” katanya. “Kami mengeksplorasi berbagai genre musik dan ragam agama untuk diekspresikan lewat musik,” kata Zastrouw lagi.

Ki Ageng Ganjur dibentuk oleh mantan Presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid, pada 1996. Kelompok ini dibentuk dengan visi untuk mendorong kerukunan beragama dalam masyarakat dan menolak semua jenis radikalisme, simbolisme agama dan setiap kekerasan atas nama agama. Tujuan dibentuknya kelompok musik ini adalah untuk menumbuhkan ekspresi keagamaan secara damai, melawan arus pemikiran sempit dan radikal, serta mengembangkan seni dan budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional dan agama.

Selain itu, tujuan dibentuknya kelompok ini adalah untuk mengembangkan seni alternatif sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, damai dan rahmatan lil alamin, serta mengembangkan tradisi lokal untuk memperkaya perkembangan seni Islam. “Untuk berbagai penampilan, kami sering berkolaborasi dengan musisi top Indonesia seperti Slank, Iwan Fals, Fadly Padi dan lady rocker Indonesia, Mel Shandy,” kata penata musik Ki Ageng Ganjur, Mamiek S.

Selain musisi Indonesia, Ki Ageng Ganjur juga pernah berkolaborasi dengan musisi Barat, salah satunya Tony Blackman dari Amerika Serikat. Dari kolaborasi itu, terciptalah musik dengan berbagai perpaduan genre, mulai dari jazz, rock, pop, dangdut hingga hip hop. Maka, jangan heran jika tiba-tiba kita mendengar lagu dengan lirik salawat badar yang diaransemen dengan musik Gregorian.

Pada penampilannya di KBRI Den Haag, Ki Ageng Ganjur memainkan lebih dari 15 lagu, di antaranya Sholawat NahdliyahTombo Ati, Ilir-ilir, Bianglala, Yaa Badrotin, Bento danImagine. Sebelum maupun sesudah tembang, Al-Zastrouw menafsirkan lagu-lagu yang dibawakan grup musiknya. Duta Besar Puja turut memeriahkan acara dengan menyumbangkan dua lagu berjudul Ayat-ayat Cinta yang dipopulerkan oleh Rossa dan lagu dangdut Jatuh Bangun karya Meggy Z.

Seperti yang sudah-sudah, pada penampilan kali ini, Ki Ageng Ganjur juga menampilkan bintang tamu: Mel Shandy dan Didik Sucahyo, mantan pemain bas band rock besar Indonesia di era 1990-an, Elpamas. “Saya mulai sering tampil bareng Ki Ageng Ganjur sejak tahun 2000,” kata Mel Shandy. “Pertunjukan di Belanda ini bagi saya merupakan sesuatu yang sangat spesial, seperti pertunjukan reuni. Di sini, saya ketemu Mas Didik Sucahyo dari Elpamas, yang dulu pernah manggung bareng di Indonesia dalam konser Tour Raksasa awal tahun 90-an.”

Mel Shandy menghibur hadirin dengan sejumlah lagu, termasuk lagu hitsnya, Bianglala. Penonton menyambut antusias penampilan lady rocker kelahiran Bandung ini, yang sesekali menghampiri mereka dan mengajak menyanyi bareng. Ketika membawakan lagu Bento karya Iwan Fals, kegembiraan penonton tak terbendungkan lagi, dan ikut menyanyi bersama Mel. Kemeriahan memuncak ketika gitaris Deden Mahdiyan memainkan salah satu intro gitar paling memorable dalam sejarah rock & roll, yakni Sweet Child O Mine milik band Amerika, Guns N Roses.

Acara malam itu ditutup pada pukul 22.00 dengan salawat –puji-pujian kepada Nabi Muhammad– dan doa bersama. Kepada hadirin, Dubes Puja menyampaikan harapannya, agar pertunjukan malam ini dapat menginspirasi kita semua untuk selalu membawa pesan-pesan perdamaian di mana pun kita berada.

Iklan
Dipublikasi di Berita | Tag , , | Meninggalkan komentar

#BaliSafe Cultural Festival 2018

balisafeMinggu, 18 Maret 2018, komunitas Bali di Belanda dan negara Eropa lainnya, serta masyarakat Belanda merayakan #BaliSafe Culltural Festival 2018 – sekaligus juga menandai perayaan Nyepi dan Saraswati yang jatuhnya bersamaan sehari sebelumnya. Kegiatan dimulai dengan persembahyangan bersama umat Hindu, dan Dharma Wacana oleh Wayan Sulestra yang menyampaikan makna dari hari Raya Nyepi, yaitu pengendalian diri melalui pelaksanaan Catur Brata.

Setelah persembahyangan, bertempat di Aula Nusantara KBRI Den Haag, lebih dari 250 orang hadir menyaksikan berbagai pertunjukan kesenian rakyat Bali. Tampak masyarakat Belanda sangat menikmati tari tradisional Bali seperti tari Pendet, Panyembrahma, tari Baris, Panji Semirang, Truna Jaya, Sekar Jagad, Meli Sambuk di Dawan, Legong Keraton, tari Hujan Mas, dan Joged Bumbung. Tidak ketinggalan Duta Besar RI Den Haag, I.G. A. Wesaka Puja muncul mementaskan tari Topeng Tua dan Topeng Sidakarya. Tari-tarian tersebut juga diiringi langsung oleh permainan gamelan yang semarak. Berbagai komunitas gamelan turut andil, antara lain Seka Gong Semara Cita Den Haag, Seka Gong Leiden, Seka Gong Saling Asah Belgia, dan Seka Gong Swara Shanti Amstelveen.#BaliSafe Cultural Festival 2018 dimeriahkan oleh sekitar 50 pemain gamelan, dan beberapa penari dari sanggar tari di Belanda, Italia, Belgia dan Jerman.

 #BaliSafe Cultural Festival 2018 bertujuan menyegarkan kembali ingatan komunitas di Belanda, dan Eropa pada umumnya, akan pesona keindahan pulau Bali, dan juga situasi Gunung Agung yang sudah aman. Dalam pidatonya, Duta Besar RI Den Haag menyampaikan keunikan dari harmonisasi permainan gamelan Bali – harmonisasi yang diharapkan juga selalu hadir di Bali. Sedikitnya sekitar 102, 235 turis asal Belanda memgunjungi Bali di tahun 2017 (Data Dinas Pariwisata Pemprov. Bali). Diharapkan tahun 2018, dengan perekonomian Belanda yang membaik, Bali dapat menjadi salah satu tujuan utama wisata turis Belanda.  Penyelenggaraan #BaliSafe Cultural Festival 2018 merupakan strategi promosi untuk mempromosikan dan meningkatkan ketertarikan atas budaya Bali di Eropa.

Dipublikasi di Berita | Meninggalkan komentar

Tukang Cukur yang Bersyukur

Sejak beberapa tahun saya punya tukang potong rambut yang hampir dapat dikatakan tempat langganan saya. Ia berasal dari Irak suku Kurdi. Saya tidak tahu apakah Kurdi bisa disebut suku.

Kolom: Bari Muchtar

Menurut Farhat, demikian namanya, dulu Kurdistan itu merupakan bangsa dan negara tersendiri, tapi kini ibarat kue tar dipotong-potong dan digabungkan ke dalam berbagai negara yakni Irak, Iran, Suriah dan Turki.

Itulah sebagian kecil dari ceritanya kalau sedang memotong rambut saya. Sudah lama saya berniat untuk menulis tentang dia tapi baru terwujud sekarang. Karena banyak ungkapannya yang cukup menarik untuk direnungkan.

Yang sering dibicarakannnya juga adalah peranan Amerika. Ia sangat percaya terhadap teori konspirasi yang mengatakan Amerikalah yang membuat Timur Tengah kacau untuk kepentingan dia sendiri.  Buktinya, katanya, Amerika menginvasi Irak bukan karena ada senjata kimia tapi hanya untuk menggulingkan Saddam Hussein. Akibatnya memang sang diktator jatuh, tapi Irak jadi kacau balau. Perang, entah yang kecil mau pun yang besar, terjadi di mana-mana. Itulah tujuan Amerika sebenarnya, katanya. Negeri Paman Sam ini sengaja menciptakan konflik atau perang untuk menguasai minyak dan menjual senjata. Suatu teori konspirasi yang sering saya dengar juga dari orang lain, sehingga kadang saya percaya juga.

Payahnya, orang di Timur Tengah itu bodoh dan tidak sadar mereka itu mau dipermainkan oleh negara-negara adikuasa seperti Amerika dan Rusia, katanya sambil menggunting rambut saya yang sudah banyak ubannya.  “Semua itu adalah permainan, ” simpulnya.

Selanjutnya ia bercerita tentang saudaranya yang tinggal di Amerika. Di sana sang saudara ini kini mempunyai pekerjaan yang lumayan berkat pendidikan tinggi yang berhasil diraihnya di negeri  itu. Dan kini si saudara ini sadar tentang hakikat Amerika. Bahwa negara adidaya ini memang ingin menguasai dunia terutama Timur Tengah. Semua yang dilakukan Amerika di sana adalah untuk kepentingan mereka sendiri. Dulu Amerika dan negara-negara Barat lain turun tangan di negara-negara Timur Tengah menyebarkan demokrasi. Tapi si tukang cukur tidak percaya itu. Amerika justru mau menguasai saja. Caranya dengan memecah belah, tambahnya. ISIS itu dibikin untuk memecah belah dan merusak Islam, simpulnya. Teori konspirasi ini juga sudah sering saya dengar. Walaupun sulit membuktikannya tapi saya cendrung juga sependapat.

Kemudian ia bercerita tentang sebuah dokumenter yang memperlihatkan prilaku para pejuang ISIS. “Saya melihat mereka pesta mabok-mabokan melakukan free seks dan lain-lain.” Dengan cerita ini, ia ingin membuktikan bahwa orang-orang ISIS itu bukan muslim yang benar.

Lalu apa kesimpulan dari analisis ecek-ecek ini semua? Ia kembali menyinggung saudaranya yang berkarir di Amerika tadi. Bahwa ia sering diajak pulang ke Kurdistan tapi ia tidak mau. Alasannya sebagai orang yang sudah lama tinggal di Amerika, ia tidak cocok lagi dengan mentalitas orang orang Timur Tengah. Dari contoh yang diberikannya saya dapat menyimpulkan bahwa orang di sana itu “gila hormat, gampang bertikai dan materialistis”. Dari ceritanya pula saya dapat menyimpulkan, karakter ini terutama dimiliki orang Arab. Menurut yang menurut pengamatan saya agamis sekali, prilaku kebanyakan muslim Arab tidak mencerminkan ajaran Islam.

Tanpa mengungkapkannya dengan tegas, ia dan saudara-saudaranya yang tinggal di Eropa termasuk Belanda sepertinya juga tidak akan pulang ke Kurdistan. Ia malah bersyukur tinggal di negeri Belanda, di mana orang yang bisa belajar, bekerja keras dan membina karir. Di Eropa dan Amerika menurut orang Kurdi yang tidak bisa berbahasa Kurdi ini, orang mempunyai kebebasan termasuk kebebasan beragama. Lagi-lagi saya sependapat dengan Farhat.

Tidak terasa proses cukur mencukur pun selesai. Bukan hanya kepala saya saja yang jadi ringan, tapi pikiran pun menjadi enteng. Karena beban saya yang ingin bercurhat tentang teori konspirasi ini menipis. Apa yang diceritakan si tukang cukur itu sebenarnya curhatan saya.

Terima kasih, wahai tukang cukur yang bersyukur.

Dipublikasi di Berita | Tag , , | Meninggalkan komentar

Ketiganya bersemangat

Dari kiri ke kanan: Kalayah, Tarek dan Bari
Foto: Bari Muchtar

Kamis 1 Februari saya mulai lagi mengajar Bahasa Belanda atau persisnya melakukan coaching bahasa di InspiratieInc, sebuah yayasan yang banyak mengayomi para pengungsi terutama dari Timur Tengah dan Afrika.

Kolom: Bari Muchtar

Meski hanya ada dua orang muridnya, tapi cukup mengesankan. Pertama karena kedua peserta sangat bersemangat. Tarek, asal Mosul, Irak selalu mencatat kata atau kalimat yang saya ajarkan. Menulisnya bukan dalam huruf Latin tapi huruf Arab. Murid yang satu lagi adalah Imane. Pengungsi asal Suriah ini menghafal dengan rajin kata-kata bahasa Belanda yang tertera di sebuah kertas. Itu sudah dilakukan minggu lalu. Ketika itu mundar-mundir ia menggumamkan kata-kata. Saya jadi teringat ketika kuliah di Mesir. Menjelang ujian taman-taman dipenuhi mahasiswa mundar-mandir menghafal.

Menyadari bahwa ini bukan cara yang tepat untuk belajar bahasa asing saya ajak Imane untuk melakukan konversasi. Ternyata dia sudah lumayan bisa bercakap-cakap dalam bahasa Belanda. Tapi setelah ngobrol sebentar tentang sudah berapa lama ia tinggal di Belanda dan lain-lain ia kembali menggumamkan kata-kata yang tertulis di secarik kertas tadi. Kata-kata di kertas itu bukan kata-kata yang bisa digunakan untuk percakapan sehari-hari. Setidaknya tidak bisa langsung digunakan untuk misalnya berbelanja dan lain-lain. Di sana tertera kata-kata “kering” tanpa konteks. Lalu terpikir di benak saya untuk mengajaknya menggunakan kata-kata itu dalam kalimat. Ia pun mengerti dan ternyata mampu membuat kalimat dengan menggunakan kata-kata itu. Saya pun puas dengan penanganan ini.

Tapi si Tarek masih tetap ingin mencatat tiap kalimat yang ia dengar dari mulut saya. Namun perlahan-lahan ia mengerti maksud saya agar menggunakan kalimat-kalimat itu dalam percakapan. Akhirnya saya pun puas juga dengan dia.

Yang membuat saya juga senang dalam kunjungan saya ke InspiratieInc Kamis itu adalah perjumpaan kembali dengan Glenn. Kenapa? Karena dengan orang asal Suriname ini saya bisa berdiskusi panjang lebar.

Menariknya saya bisa berdiskusi tentang agama secara terbuka dengang orang yang mengaku orang Yahudi asli ini. “Saya bukan orang Yahudi tapi orang Ibrani”, katanya, “dan nama Ibrani saya Kalayah.” Menurut dia, orang-orang Yahudi yang kita kenal selama ini adalah Yahudi palsu. Jadi, Yahudi yang mendirikan negara Israel, membentuk gerakan zionisme, yang menguasai perbankan dan lain-lain itu semuanya Yahudi palsu. Kalayah, selalu bersemangat kalau berbicara soal budaya dan agamanya. Meskipun berbeda pendapat, tapi kami bisa berdialog lama.

Imane, Tarek dan Kalayah mempunyai kesamaan. Ketiganya bersemangat. Dan ini membuat saya juga bersemangat untuk sering mampir di InspiratieInc.

Dipublikasi di Berita | Tag , , | Meninggalkan komentar

“Sekali di Udara Tetap di Udara”

Foto: Facebook/Kalkasingh

Setelah pulang ke Belanda dari liburan ke Indonesia bersama istri, anak dan cucu, Agustus tahun lalu, saya sudah bertekad untuk berhenti menjadi penyiar di Radio SKS (www.radiosksfm.com), karena mau “pensiun total”.

Di siaran saya sudah sering mengatakan bahwa saya akan mengundurkan diri sebagai penyiar dan sudah mulai mencari pengganti. Ada beberapa orang yang sudah saya aproach untuk menjadi penerus saya di radio multibahasa itu. Tapi usaha itu gagal. Belakangan banyak hal-hal yang membuat saya- untuk sementara- urung lengser.

Pertama makin banyaknya orang mendengarkan siaran. Terutama saudara dari kampung halaman saya dari desa Landur, Bayau dan desa-desa lain di Kabupaten Empat Lawang, serta saudara-saudara yang tinggal di daerah lain di Indonesia. Teman-teman warga Aceh di luar negeri seperti di Swedia, Jerman dan sebagainya suka mendengarkan. Juga yang tinggal di Aceh. Biasanya orang yang saya wawancarai suka mendengarkan siaran. Banyak pula orang-orang yang dulu setia mendengarkan Ranesi (Radio Nederland Siaran Indonesia) juga suka mengakses Radio SKS. Dari semula mendengarkan lewat website tapi perlahan-lahan mereka menyimak dan memirsa siaran lewat facebook.

Kedua, bertambahnya perasaan keterlibatan saya dengan radio SKS yang dimiliki pasangan Soenil Kalkasingh (warga Belanda asal Suriname/Hindustan) dan Ria Mantjes (perempuan lansia Belanda yang tak kenal lelah). Demi keberlangsungan multibahasa radio ini, saya sering membantu mereka untuk mencari penyiar baru, bukan hanya untuk siaran bahasa Indonesia saja tapi juga untuk siaran dalam bahasa lain.

Karena saya menyukai dan lumayan menguasai bahasa Arab saya mencari di kalangan pengungsi (sejak hampir 6 tahun saya bekerja sebagai relawan untuk pengungsi) orang-orang yang mau menyiar dalam bahasa Arab. Sekarang sebenarnya sudah ada siaran berbahasa Arab, tapi dialek Maroko.

Di bulan Januari saya berjumpa dengan seorang pengungsi Suriah yang pernah saya bimbing belajar Bahasa Belanda. Ia langsung bertanya apakah saya masih bekerja di radio. Setelah saya jawab pertanyaan itu dengan “Ya”, George Dodosch, pemeluk agama Kristen Orthodox ini, meminta saya untuk membantunya agar bisa menjadi penyiar di Radio SKS. Setelah saya perkenalkan dengan Soenil, Ahad ini ia akan berjumpa Soenil dan Ria untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan siarannya.

Kemudian tiba-tiba Hero, seorang pendengar setia Radio Nederland Siaran (Ranesi) yang kini menjadi penyiar di Radio Immanuel, Solo, mengajak saya untuk tiap Kamis menggelar talkshow di acaranya. Lalu tanpa disangka, Latif Gau, pengusaha Indonesia di Belanda, menelpon saya lewat Whatssapp. Ia bertanya apakah saya bersedia membantu teman-teman Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda untuk menghidupkan kembali Radio PPI Belanda. Tentu saja saya tidak bisa dan tidak mau menolak, meski saya akan makin bertambah sibuk. Wah rupanya Allah mentakdirkan saya untuk tetap menekuni bidang keradioan. Jadi ingat slogan yang mungkin sudah jadul dari kalangan penyiar. “Sekali di Udara Tetap di Udara”.

Dipublikasi di Berita | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Indonesia Pimpin Komite Persiapan 4th Review Conference – OPCW Tahun 2018

Dubes RI untuk Belanda (tengah)

Indonesia telah memimpin pertemuan pertama Komite Persiapan (Open-Ended Working Group for the Preparations/PrepCom) untuk 4th Review Conference Tahun 2018, yang berlangsung di gedung Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (Organization for the Prohibition of Chemical Weapons – OPCW), Den Haag, pada 25 Januari 2018. Kepemimpinan Indonesia ini akan berlangsung sampai November 2018.

Pertemuan pertama yang dihadiri oleh Dirjen OPCW dan perwakilan seluruh negara Pihak KSK tersebut telah membahas program kerja dan mengidentifikasi beberapa isu tematik untuk dibahas dalam Komite.

Sesuai mandat Konvensi Senjata Kimia (KSK), Komite akan melakukan review terhadap implementasi KSK dalam 5 tahun terakhir. Komite akan menyelenggarakan sedikitnya 13 kali pertemuan serta berbagai konsultasi dengan seluruh stakeholders relevan untuk memperoleh masukan konstruktif mengenai isu yang menjadi perhatian OPCW belakangan ini, seperti penggunaan senjata kimia, peran aktor bukan negara (non-state actors), non-proliferasi senjata kimia, verifikasi, penggunaan bahan kimia untuk tujuan damai, pengembangan teknologi dan industri kimia, serta revitalisasi peran OPCW dalam perdamaian dan keamanan internasional.

Dalam pertemuan ini, Indonesia menyampaikan pandangannya mengenai perlunya pendekatan yang holistik dan pembahasan yang berimbang antara proses review ke belakang dengan upaya memproyeksikan arah OPCW ke depan, untuk menjawab berbagai tantangan zaman terkait penggunaan senjata kimia.

“Keketuaan Indonesia dalam Komite ini merupakan amanat yang besar yang harus dijalankan sebaik mungkin”, kata Dubes Puja. “Indonesia memainkan peran penting untuk menghasilkan draft dokumen hasil konsensus negosiasi, yang mencerminkan konsolidasi berbagai posisi dari seluruh negara Pihak KSK”, tambahnya.

Keberhasilan dalam pembahasan Komite ini akan menentukan pula keberhasilan dalam 4th Review Conference. Komite diharapkan akan menghasilkan draft dokumen konsensus sebagai basis negosiasi dalam pertemuan 4th Review Conference yang akan diselenggarakan di Den Haag pada 19-30 November 2018, secara back-to-back dengan Konferensi Negara Pihak OPCW.

Dalam memimpin Komite tersebut, Indonesia dibantu oleh para Dubes dari Amerika Serikat, El Salvador, Kamerun, dan Polandia sebagai para Wakil Ketua.

Indonesia terpilih sebagai Ketua Komite Persiapan pada Konferensi Negara Anggota OPCW yang ke-22 pada November 2017, yang dihadiri oleh 192 negara anggotanya, di samping telah ditetapkan sebagai anggota Dewan Eksekutif OPCW untuk periode 2018-2020.

Terpilihnya Indonesia merupakan kepercayaan dunia internasional terhadap peran Indonesia dalam perlucutan dan pelarangan senjata kimia di forum internasional yang merupakan bagian dari upaya ikut mewujudkan dan mempertahankan perdamaian dan keamanan internasional, sejalan dengan amanat UUD 1945.

Dipublikasi di Berita | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Belanda-Indonesia Selidiki Kasus Hilangnya Kapal Perang Belanda

Salah satu kapal perang saat itu
Foto: vimedo

Kementerian Pertahanan Belanda akan menyelidiki lebih lanjut kasus hilangnya kapal perang Belanda yang terbenam di Laut Jawa pada 1942 lalu.

Akhir 2016 diumumkan bahwa rongsokan kapal-kapal penjelajah De Ruyter dan Java serta sebagian besar kapal pemburu torpedo Kortenaar tidak ditemukan lagi di dalam laut Jawa. Berita ini membuat keluarga korban tercengang. Kapal-kapal tersebut tenggelam 76 tahun saat berlangsung perang antara Belanda melawan Jepang di Laut Jawa.

Belum lama berselang website berbahasa Indonesia Tirto.id dan koran Belanda De Telegraaf memberitakan jenazah tentara juga tidak ditemukan lagi saat dilakukan evakuasi bangkai kapal De Ruyter.

Tirto.id, membantah hasil penyelidikan resmi, Konon ada izin yang diberikan untuk melakukan evakuasi di kawasan tempat kapal terbenam. Juga dilaporkan ada jenazah yang dimakamkan di kuburan masal.

Menteri Pertahanan Belanda, Ank Bijlveld, Kamis ini memberitahukan kepada Parlemen Belanda bahwa pemberitaan tersebut di atas sudah diselidiki.

Berita-berita lain misalnya mengenai jenazah, menurut Menteri, masih akan diselidiki. Pihak Indonesia juga kembali akan menyelidiki kasus ini. Dubes Belanda di Jakarta berbicara dengan Menteri Perhubungan RI Kamis.

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, sangat serius menanggapi kasus ini. Ia mengatakan, Indonesia dan Belanda akan bekerjasama untuk menyelidiki apa yang terjadi dengan kapal-kapal perang Belanda tersebut.

Dipublikasi di Berita | Tag , , | Meninggalkan komentar