Dokumenter Pembantaian Orang Belanda di Indonesia

“Peristiwa pembunuhan terhadap warga sipil ini perlu diceritakan. Demikian kata Pia van der Molen, pembuat dokumenter Het Archief van Tranen (Arsip Airmata). Dokumenter yang terdiri dari dua bagian ini menayangkan pembunuhan massal yang terlupakan terhadap orang Belanda di Hindia Belanda, nama nusantara di zaman penjajahan Belanda dulu.

Setelah Jepang bertekuk lutut pada 15 Agustus 1945, dua hari kemudian pada  17 Agustus 1945 Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Warga Belanda yang selamat dari kamp internir Jepang, malah dihadapkan dengan pembantaian yang dilakukan oleh kelompok pemuda, pendukung kemerdekaan Republik Indonesia. Demikian tertulis di pengantar dokumenter yang disiarkan oleh organisasi penyiaran Max tersebut.

Zaman perlawanan rakyat Indonesia terhadap usaha Belanda untuk menduduki kembali RI itu  disebut oleh orang Belanda “Bersiap-periode” atau Periode Bersiap, yang berlangsung dari Oktober 1945 sampai Mei 1947. Pada saat itu setidaknya 3500 warga Belanda berdarah campur Indonesia-Eropa dibunuh secara sadis dengan  golok dan bambu runcing.

Perempuan dan anak

Sekitar 4000 perempuan dan anak-anak Belanda menderita kelaparan, penyakit dan kelelahan. Sebagian ditahan di kamp-kamp yang dikelolah oleh kelompok nasionalis Indonesia.  Selama Periode Bersiap itu, sekitar  16000 warga Belanda hilang, termasuk warga Tionghoa yang berkewarganegaraan Belanda. Jasad mereka tidak pernah ditemukan.

Dokumenter itu diawali dengan memperlihatkan kuburan Belanda di Surabaya, disusul dengan kunjungan ke Hotel Oranje yang sekarang diganti nama Hotel Majapahit.

Peter Steenmeijer, seorang Indo-Belanda mengatakan, meski Jepang kalah dan orang Belanda dibebaskan dari kamp internir tapi mereka tidak bebas sama sekali. Di Surabaya justru perang mulai berkobar dan jalan-jalan dipenuhi pemuda. “ Warga kampung tempat kami tinggal dibunuhi. Mayat bergelimpangan di kali Brastagi sehingga warnanya merah, “ katanya.

Pada 18 September 1945 tujuh orang tentara Sekutu didrop di Surabaya. Salah satunya adalah sersan Belanda Lou Bals. Tentara Sekutu itu dibawa oleh Jepang ke Hotel Oranje, yang sekarang berubah menjadi Hotel Majapahit.

Insiden bendera

Lou Bals mengatakan, hari itu merupakan konfrontasi pertama bagi dirinya terhadap Indonesia yang sudah merdeka. Di atas hotel itu dipasang bendera Belanda, kenang Lou Bals. Dan inilah yang menyulut kemarahan massa ketika itu, tambahnya. Serta merta masa menyobek warna biru bendera Belanda itu, sehingga yang tersisa adalah merah putih, warna bendera Indonesia.

Ditanya tentang pemasangan bendera Belanda di Hotel Oranje itu, Lou Bals yang sudah lansia itu mengatakan: “Saya kira, itu keputusan yang salah. Pertempuran itu merupakan yang pertama di seluruh Indonesia, yang dampaknya sangat mengerikan, terutama di Surabaya.”

Pembuat documenter kemudian menyebut Gedung pertemuan Simpang di Surabaya pada zaman itu dijadikan markas PRI “revolutionaire volksleger” (tentara rakyat revolusioner)  pimpinan Dr Soetomo.

Selanjutnya documenter mengutip tulisan Leonore Sinsu-Andries, seorang perempuan Indo-Belanda yang lahir di Surabaya. Kutipan itu diambili dari arsip.

“Pada 22 Oktober 1945 menjelang jam setengah sembilan pagi saya ditangkap oleh PRI yang mendengar kabar bahwa saya  menyimpan senjata dan saya pun dibawa ke Simpang Club. Saya terperangah melihat bagaimana orang dibunuh seperti binatang. Soetomo bertanya kepada massa harus diapakan musuh rakyat itu. “Bunuh!,” kata mereka. Lalu Roestam, sang algojo, memancung kepala korban, yang kemudian diserahkan kepada para pemuda Indonesia berusia  10,11 dan 12 tahun yang haus darah.”

Itulah salah satu dari kutipan saksi mata yang menceritakan kekejaman para pemuda Indonesia di zaman itu.

Sumber: http://www.uitzendinggemist.nl/afleveringen/1279594

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Dokumenter Pembantaian Orang Belanda di Indonesia

  1. Agoes I. Winia berkata:

    Johanes Cornelis Adolf Winia adalah papa saya. Lahir tahun 1915 dan meninggal tahun 1975. Sebelum tahun 1950 adalah warga negara kebangsaan Belanda. Sampai akhir hayatnya, beliau tidak di akui sbagai Interniran Belanda di Indonesia. Tidak pernah mendapat tunjangan interniran sbgai hak beliau.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s